Syiahpedia
MENU

Malu atau Takut Dicap Sesat

Kategori: Artikel

Oleh Muhsin Labib

Suatu komunitas merupakan kumpulan individu yang terintegrasi berdasarkan prinsip umum yang menjadi perekatnya.

Kuat atau lemahnya soliditas suatu komunitas merefleksikan validitas dan pengaruh aktual dari prinsip yang dianut. Ia sekaligus, memperlihatkan kualitas militansi dan tingkat komitmen segenap individu penganutnya serta kesiapan menerima segala risikonya.

Sebagai keyakinan berbentuk worldview yang mengkombinasikan kepatuhan dengan resistensi secara apik, mazhab keislaman Syiah seolah memiliki takdirnya sendiri; dijadikan target persekongkolan sekaligus objek kebencian yang sistematis dan konstan oleh banyak anasir yang terancam oleh keberadaan hingga pemkirannya.

Diasingkan, disingkirkan, difitnah, dipersekusi, diburu, bahkan digenosida tanpa ampun, merupakan rangkaian risiko dan konsekuensi historis yang substansial dari memilih mazhab ini. Kendati diakui sebagai mazhab keislaman arus utama bersama Ahlussunnah, Syiah kerap ditolak dan jumlah pengikutnya selalu sedikit.

Fenomena negatif itu bukan lantaran prinsip-prinsipnya yang kokoh dan ajaran-ajarannya yang realistis dan valid dirasa sangat mengganggu dan menginvasi “zona nyaman religius” yang sudah jadi status quo–meski kenyamanan itu semu, sesaat, tak masuk akal, tak manusiawi, bahkan tak islami, melainkan karena risiko dan akibat-akibat sosialnya yang konstan dan “mengerikan” yang dihindari.

Rangkaian risiko itu tak hanya berimplikasi pada sedikitnya jumlah pengikut, namun juga membuat banyak penganutnya gamang dan canggung, sehingga merasa harus mengendap-ngendap mencari lahan kosong di sudut-sudut sempit ruang sosial. Seraya itu, mereka berjuang keras untuk “main petak umpet” dalam hal keyakinan saat berinteraksi secara real maupun virtual. Agar drama permainannya itu tercitra religius, mereka pun mengumbar klaim “bertaqiyah” yang sebenarnya tak lagi proporsional.

Main petak umpet keyakinan justru kerap kali menjadi bumerang. Alih-alih menyelamatkan diri, apalagi komunitas, yang terjadi malah menggerus tanggungjawab dan solidaritas komunal. Pandangan, sikap, dan perilakunya (terutama secara virtual) tanpa disadari, justru menjadi beban dan ancaman bagi agama, mazhab, komunitas, dan para individu Syiah yang dengan sadar diri tampil apa adanya dan siap menerima segala risikonya.

Memang, ada kalanya keyakinan tersebut wajib disembunyikan. Tentunya bukan dalam logika petak umpet, yakni hanya sekadar permainan. Melainkan dalam koridor hukum, khususnya manakala syarat-syarat fikih tentangnya telah terpenuhi. Namun begitu, identifikasi atas “syarat-syarat bertaqiyah” juga tidaklah mudah dan perlu senantiasa dievaluasi. Bila bertaqiyah atau tidak bertaqiyah tetap beresiko mengalami diskriminasi, maka alasan syar’i untuk bertaqiyah otomatis gugur.

Saat mazhab ini dikepung aneka fitnah hingga para penganutnya disesat-sesatkan dan dikafir-kafirkan, bahkan dianiaya gerombolan minoritas yang sebenarnya kontra dengan mayoritas yang toleran, lantas siapa yang paling bertanggungjawab membela dan menangkisnya? Jawabannya cukup jelas; setiap individu penganutnya, bukan tokoh-tokoh di luar mazhab dan komunitasnya.

Memperlihatkan diri sebagai penganut mazhab ini tak identik dengan menyombongkan diri. Apalagi sampai “obral murah” mazhabnya dan berlagak petentengan dengan mengumbar tantangan debat atau menghujat mazhab lain.

Banyak jalan menuju cerdas. Salah satunya dengan berprilaku sopan dan bertenggang rasa. Bahkan tindakan mengalah seraya memperkenalkan diri sebagai penganut mazhab ini merupakan cara elegan dalam menepis propaganda dan provokasi agen-agen intoleransi dan sektarianisme.

Mengaku Syiah tidaklah berat. Toh, yang diperlukan hanya ujaran lisan dan tulisan. Tapi menjadi Syiah (sejati) bukan hanya berat, melainkan bahkan nyaris mustahil. Tak perlu apologetik saat menolak mengaku Syiah hanya lantaran tak siap diserbu risiko sosialnya. Justru pengakuan sebagai Syiah secara terbuka sama saja dengan meleburkan diri berikut beban sosialnya ke dalam “kita”, baik dalam aspek pandangan, sikap, maupun tindaknya.

“Saya tak layak jadi Syiah” merupakan ungkapan rendah hati bila memang meluncur dari ketulusan hati. Tapi ungkapan itu juga rawan membatu sebagai klise, basa-basi, dan justifikasi bila menyembul dari keengganan mengaku sebagai penganut ajaran tersebut, baik dalam pandangan, sikap, maupun perilakunya.

Etimologi Syiah sendiri  bermakna pengikut dan pendukung. Al-Quran Suci menggunakan kata Syiah dalam beberapa momen. Seperti dalam firman Allah Swt: “Dan sesungguhnya syiahnya adalah milik Ibrahim.”  (QS. ash-Shafat: 83) Mereka  (kaum Syiah) adalah orang-orang yang bersumpah demi agamanya, atau yang bersumpah demi agama Allah dan menahan para pendusta (4). Atau sebagaimana firman Allah Swt: “Maka pertolongan orang yang termasuk pengikutnya melawan musuhnya.” (QS. al-Qashash: 15 ) Dan masih banyak lagi.

Terminologi dan teologi Syiah mengasosiasikan “syiah” sebagai para pendukung kepemimpinan Ali bin Abi Talib pascawafatnya Nabi saw.  Baik etimologi maupun terminologinya, “syiah” sudah memuat makna primer “komunitas”. Dengan kata lain, setiap individu yang mengimani imamah Ali bin Abi Thalin niscaya terintegrasi dalam komunitas kesyiahan.

Dalam situasi penuh gejolak, terlebih saat konflik kepentingan politik sesaat mendominasi ruang sosial yang juga dihuni para penganut mazhab Syiah, setiap Muslim Syiah, seyogianya menguatkan dua corak kesadaran:

1. Kesadaran personal sebagai pribadi partikular berikut segenap tanggung jawab (taklif)nya.

2. Kesadaran impersonal sebagai pribadi universal berikut segenap tanggungjawab komunalnya melalui apresiasi mutual, solidaritas, juga koordinasi dan rekonsiliasi.

Sebagai pamungkas obrolan ini, mari kita berandai-andai.

Andai sebagian besar Muslim Syiah menyembunyikan keyakinannya, kapan bangsa Indonesia akan mengetahui–apalagi mendapat manfaat dari–kiprah dan kontribusinya?

Andai sebagian Muslim Syiah menyembunyikan diri demi “leluasa cari nafkah”, lantas apakah Muslim Syiah yang menampakkan diri dengan semua risikonya tak dianggap perlu mencari nafkah?

Andai sebagian penganut mazhab ini menyembunyikan diri demi cari aman dan nyaman, apakah itu berarti mengekspos dan membiarkan tidak aman sebagian Muslim Syiah yang berani menampakkan diri dengan semua resikonya?

Andai sebagian penganut mazhab ini sembunyi agar pergaulannya luas, lantas apa arti luasnya pergaulan bila identitas kongkrit dan Ilahiahnya justru dipingit dan dipasung dalam sangkar gelap ketakutan yang bisu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2024 Syiahpedia. All Rights Reserved.