Syiahpedia
MENU

Perdamaian Imam Hasan as adalah perjanjian damai antara Hasan bin Ali bin Abi Thalib Imam Kedua Syiah dan Muawiyah bin Abu Sufyan yang terjadi pada tahun 41 H/661. Perjanjian damai ini disepakati setelah meletusnya perang dimana Imam Hasan al-Mujtaba as harus berhadapan dengan keinginan yang berlebihan Muawiyah dan penolakannya untuk memberikan baiat kepada Imam yang merupakan khalifah kaum muslimin. Dikatakan bahwa pengkhianatan sebagian para pemimpin pasukan Imam Hasan as, menjaga kemaslahatan kaum muslimin, menjaga nyawa komunitas Syiah dan bahaya kaum Khawarij adalah termasuk diantara faktor-faktor perjanjian damai Imam as. Berdasarkan perjanjian damai ini, pemerintahan harus diserahkan dari Imam Hasan as kepada Muawiyah.

Perjanjian ini mengandung beberapa syarat. Syarat terpenting dari isi perjanjian itu adalah Muawiyah tidak memiliki wewenang untuk mengangkat khalifah dan tidak melakukan konspirasi kepada Imam Hasan dan harus menjaga nyawa kaum muslimin. Muawiyah tidak menjalankan satu pun dari persyaratan ini.

Sejarah

Kekhilafahan Imam Hasan as

Paska kesyahidan Imam Ali as, masyarakat Irak memberikan baiat kepada putranya, Imam Hasan as sebagai khalifah, dan para pembesar sahabat Nabi yang hadir di Kufah dan juga masyarakat Madinah dan Hijaz menerima kekhilafahannya. Sementara Muawiyah bin Abi Sufyan tetap berkuasa di Syam dan Mesir dan tidak menerima kekhilafahan Hasan bin Ali as. Dengan sampainya berita kekhilafahan Hasan bin Ali as kepada Muawiyah, ia mengutus beberapa orang untuk menjadi spionase dan menggerakkan masyarakat Irak. Imam Hasan dalam surat-suratnya menyeru Muawayah untuk taat pada dirinya. Sebaliknya, Muawiyah mengklaim dirinya pantas menjadi khalifah.

شبهة اقتضاء الصلح أنْ يكون معاوية أميرًا على الإمام الحسن - شفقنا العربي

Apakah Imam Hasan as Sejak Awal Berpikir untuk Damai?

Beberapa catatan sejarah melaporkan bahwa Imam Hasan as sejak awal masa kekhilafahannya cenderung untuk damai dan ia diperkenalkan sebagai pribadi yang mencari perdamaian yang tidak suka berperang dengan Muawiyah. Laporan tersebut terdapat dalam kitab sejarah Thabari dan didasarkan pada riwayat-riwayat Ibnu Syihab Zuhri penulis sejarah yang berafiliasi kepada kaum Umawi. Berdsarakan laporan ini, penduduk Irak ingin berperang dengan Muawiyah dan Imam Hasan terpaksa harus mengikuti kehendak mereka padahal ia sendiri tidak ada kecenderungan untuk perang.[1]Berdasarkan laporan lain dikatakan bahwa Imam Hasan sejak awal menentang orang-orang yang ingin bereperang dengan Muawiyah. Sesuai dengan penukilan Thabari, orang pertama yang berbaiat kepada Hasan bin Ali as adalah Qais bin Saad bin Ubadah. Ia menjulurkan tangannya dan berkata, ‘aku berbaiat kepadamu untuk Alquran, sunah dan perang dengan orang-orang yang menyimpang’. Imam Hasan as berkata kepadanya: “Berbaitlah untuk Alquran dan sunah yang mana segala sesuatu ada pada keduanya (dan secara implisit Imam tidak menerima syarat Qais yang ke tiga). Qais berbaiat dan tidak bicara lagi.[2] Menurut laporan ini, Imam untuk mengaplikasikan niatnya menyerahkan kepemimpinan pasukan Irak kepada Ubaidullah bin Abbas dan tidak meyerahkan kepada Qais bin Saad bin Ubadah yang sangat benci kepada Muawiyah dan bertekad memerangi.[3]

Sebaliknya, catatan-catatan sejarah lain yang diterima oleh muslim Syiah melaporkan soal tekad Imam as untuk berperang dengan Muawiyah dan meyatakan bahwa sebab penerimaan janji damai olehnya bukan didasari keinginannya melainkan karena lemahnya jiwa penduduk Irak untuk berperang dan konspirasi Muawiyah dalam memuaskan perut-perut para komandan pasukan. Dinukilkan bahwa Imam as dalam satu pertemuan dengan penduduk Irak mengajak mereka untuk berperang dengan pasukan Muawiyah yang bergerak menuju Irak. Namun, tak seorang pun menjawab seruan tersebut sehingga dengan perkataan beberapa orang yang setia kepada Imam seperti ‘Adi bin Hatim, para pembesar Bani Thai dan Qais bin Ubadah terbentuklah pasukan 12000 orang yang siap bertempur.[4]

Pengiriman Pasukan ke Maskin

Sumber-sumber historis berbeda pandangan mengenai jumlah pasukan Imam Hasan as. Menurut satu riwayat, pasukan Imam berjumlah 12000 orang yang dikomandani oleh Ubaidullah bin Abbas, sementara Qais bin Saad bin Ubadah dan Said bin Qais menjadi penasehatnya. Menurut laporan-laporan lain, pasukan Imam berjumlah 40000 orang dan persiapannya dipimpin oleh Qais bin Saad bin Ubadah menuju ke Maskin.[5]

Semua pasukan Kufah bergerak menuju Maskin sementara Imam Hasan as bertolak ke Madain dan telah disepakati ia akan bergabung dengan mereka setelah itu. Alasan Imam as pergi ke Madain tidak diketahui secara jelas, namun tampaknya ia pergi ke sana hendak mengumpulkan kekuatan.[6] Menurut sebuah laporan, Muawiyah mengirim sebagian bala tentaranya ke Madain dan Imam as pergi ke sana hendak berhadapan dengan mereka.[7]

Penyerangan Imam Hasan as di Madain

Dalam satu insiden di Madain, Imam diserang dan kemahnya dirampas serta tubuhnya dilukai. Terkait sebab kejadian ini dinukilkan beberapa laporan yang berbeda beda dalam sumber-sumber sejarah. Berdasarkan laporan sebagain sumber sejarah, Imam Hasan as menyampaikan pidato di tengah masyarakat Madain dan secara implisit mengisyaratkan bahwa dirinya tidak ingin berduel dengan Muawiyah. Sumber-sumber tersebut tidak menyebutkan alasan Imam as dalam menyampaikan pidato semacam ini.[8] Pidota Imam Hasan as membuat marah sejumlah orang dan setelah itu sekelompok orang dengan menggunakan cara Khawarij mengkafirkan Imam as dan salah seorang diantara mereka menyerang Imam dan melukainya dengan sebilah belati. Dalam laporan ini tidak disinggung sebab mengapa Imam as menyampaikan pidato demikian.[9]

Sebagian peneliti -dengan melontarkan pertanyaan bahwa jika Imam as tidak punya tekad untuk berperang, mengapa ia harus mengumpulkan pasukan di Irak dan mengirim ke medan tempur- mengkritisi laporan riwayat di atas dan meyakini bahwa sebab pengajuan damai dari pihak Imam as adalah karena dari satu sisi semangat masyarakat lemah untuk berperang dengan Muawiyah dan dari sisi lain karena isu-isu yang dibuat oleh pasukan Syam sehingga Imam terpaksa menerima perdamaian.[10]

Laporan-laporan lain meyakini bahwa kejadian penyerangan kepada Imam as adalah hasil dari faktor-faktor lain. Menurut sebuah laporan, penerimaan damai dari pihak Imam as bukan keluar dari lisan Imam, tetapi merupakan sebuah isu yang disebarkan oleh antek-antek Muawiyah di Madain. Muawiyah mengutus Mughirah bin Syu’bah dan Abdullah bin ‘Amir ke Madain untuk mengadakan negosiasi dengan Imam Hasan as dan saat mereka keluar dari tenda langsung menyebarkan isu bahwa Imam Hasan as menerima perdamaian dengan Muawiyah. Dan setelah kejadian ini sekelompok masyarakat menjadi marah.[11]

Berdasarkan laporan lain, serangan kepada Imam terjadi saat sebagian pasukan yang hadir di Madain menyebarkan isu bahwa Qais bin Saad bin Ubadah mengalami kekalahan dalam berperang melawan Muawiyah. Kondisi ini menyebabkan kekacauan di tengah pasukan dan masyarakat mulai melarikan diri dan sekelompok lagi menjarah tenda Imam . Dalam laopran ini tidak disinggung soal pengajuan damai dari pihak Imam as.[12]

Runtuhnya Laskar Irak dan Penerimaan Damai dari Pihak Imam

Seperti yang telah dikatakan, sebagian laporan meyakini bahwa Ubaidullah bin Abbas adalah panglima pasukan dua belas ribu orang dari penduduk Irak di daerah Maskin. Menurut laporan-laporan ini, pada hari dimana Imam Hasan as mendapat serangan di Madain, terjadi perkelahian kecil pula diantara penduduk Irak dan penduduk Syam di Maskin. Pada malam dimana Muawiyah memberi pesan kepada Ubaidullah bin Abbas bahwa ‘Hasan bin Ali telah menerima janji damai di Madain dan telah tunduk kepadaku, dan jika kamu sekarang juga bergabung denganku niscaya aku berikan kepadamu satu juta Dirham’, Ubaidullah menerima tawaran tersebut dan pada pertengahan malam pergi ke tempat perkemahan Muawiyah. Qais bin Saad bin Ubadah bertugas memimpin masyarakat setelah Ubaidullah. Dengan sampainya berita akurat tentang penerimaan damai oleh Imam as, maka para laskar bersama Qais kembali ke Kufah.[13]

Sumber-sumber yang mengatakan bahwa panglima pasukan Irak bukan Ubaidullah bin Abbas melainkan Qais bin Saad bin Ubadah melaporkan kejadian tersebut dalam bentuk lain. Sesuai laporan ini, di antara pasukan Irak yang dipimpin oleh Qais dan pasukan Syam terjadi pertempuran, namun saat mereka mendengar penyerangan kepada Imam, Qais menghentikan pertempuran sebentar hingga ia mendapatkan berita yang pasti. Namun pada detik-detik ini sekian banyak dari pasukan Kufah melarikan diri ke pasukan Syam. Melihat kondisi seperti ini, Qais langsung mengirim pesan kepada Imam as dan seketika itu pula Imam berpidato di tengah-tengah masyarakat dan mengeluhkan sikap pengecut masyarakat Irak terhadap dirinya dan ayahnya Ali as, dan pada ujung pidatonya, Imam menyampaikan kehendaknya untuk menyerahkan kekhilafahan kepada Muawiyah.[14]

Bersambung

Catatan Kaki:

  1. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 158
  2. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 158
  3. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 158
  4. Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibyyin, hlm. 70; Ja’fariyan, Tarikh Khulafa’, hlm. 374
  5. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 159
  6. Ja’fariyan, Tarikh Khulafa’, hlm. 379
  7. Dinawari, Akhbar al-Thiwal, hlm. 216
  8. Dinawari, Akhbar al-Thiwal, hlm. 216
  9. Dinawari, Akhbar al-Thiwal, hlm. 265
  10. Ja’fari, Tasyayyu’ dar Masire Tarikh (Syiah dalam perjalanan Sejarah), hlm. 174; Ja’fariyan, Tarikh Khulafa’, hlm. 378
  11. Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi, jld. 2, hlm. 215
  12. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 159
  13. Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi, jld. 2, hlm. 214
  14. Ibnu A’tsam, al-Futuh, jld. 4, hlm. 290

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2024 Syiahpedia. All Rights Reserved.