Syiahpedia
MENU

Syiahpedia.id – Doktor Syekh Ahmad Thayyib, seorang syekh di Universitas Al-Azhar, berkata, “Barangkali kita—kalau boleh menyimpulkan dari realitas yang kita alami—tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa pihak Barat menerapkan semacam hegemoni atas Islam dan kaum muslim untuk melayani tujuan dan ambisinya di Kawasan. Rencana Timur Tengah baru dengan hal-hal tersembunyi dan samar bagi orang yang memikul cita-cita umat ini serta kepedihan dan harapannya.

Dimaklumi bahwa itu merupakan rencana untuk memecah belah dan mencerai-beraikan, dan induk dari perang itu adalah penyebaran fitnah, sebisa mungkin, serta membangkitkannya di mana pun dan bagaimanapun keadaannya, baik yang sifatnya sektarianisme, rasisme, maupun spiritualisme, antarkaum muslim sendiri maupun antarmuslim dan penganut agama lain. Jika kolonialisme Barat pada dua abad lalu berhasil mengoyak persatuan umat dan mampu membagi-bagi wilayah dan negara-negara, sekarang mereka mengulangi siasat tersebut. Prinsip kolonialisme masih tetap: ‘pecah belah, lalu kuasai’ (devide et impera). Rencana jahanam ini tengah berlangsung di negeri-negeri Arab dan muslim dengan berbagai nama, dan sangat disesalkan, umat ini masih saja mau menelan makanan yang sama.

Saya kira hal itu tidak membutuhkan bukti dan penjelasan. Contohnya, kita sepakat melihat tercabik-cabiknya Irak, juga akibat adanya adu domba pihak musuh. Jadi, di sinilah fitnah dibangkitkan oleh peperangan sektarian yang menampakkan berbagai keburukan serta menyulutkan api fitnah antara Syi’ah, Sunnah, Wahabi, sufi, salafi, dan lain-lain. Itulah peperangan yang dikobarkan sengketa yang tidak ada pembenarannya.

Jika kita mau menelisik prinsip-prinsip ajaran Syi’ah dan prinsip-prinsip ajaran Ahlusunnah dengan kriteria-kriteria iman dan Islam, apakah secara akli dan naqli dibenarkan pertumpahan darah bagi orang-orang teraniaya dan tak berdosa di antara kedua kelompok tersebut? Apakah bila seseorang menyatakan adanya nas atas kepemimpinan Ali, atau pernyataan atas kemaksuman Imam, atau terbatasnya jumlah Imam dari kalangan Ahlulbait menyebabkannya keluar dari Islam? Atau, apakah bahkan pernyataan tersebut menjadi pembeda bagi seseorang, masuk Islamkah dia atau keluar dari Islam?

Apakah mazhab yang berpendapat bahwa khilafah diputuskan melalui musyawarah di antara kaum muslim dan bahwa para nabi dan para rasul adalah terpelihara dari kesalahan menjadi ukuran pembenaran untuk memerangi, menyembelih, dan menghukum orang-orang yang berpegang pada pendapat tersebut? Apakah keberangkatan penganut Sunnah atau Syi’ah untuk berziarah kepada Ahlulbait, para wali, orang saleh, dan bertawasul kepada mereka menjadikan darah mereka halal [untuk ditumpahkan] dan membunuh mereka merupakan kewajiban bagi orang yang mengingkari tawasul dan ziarah kubur? Apakah kegiatan yang dilakukan oleh kaum sufi merupakan tindakan yang mengacaukan akidah?

Bukankah kewajiban—agama dan syariat—atas orang yang mengingkari hal tersebut adalah bersungguh-sungguh dalam mengajari dan membimbing mereka? Mengapa mesti dibelanjakan uang miliaran untuk misi mengafirkan, memfasikkan, membidahkan, memecah belah umat, dan menanamkan kebencian serta kedengkian dalam hati? Namun, tak sepeser pun uang itu dipergunakan untuk memberikan kesadaran pada umat dan menyatukan mereka dalam bingkai persaudaraan Islam yang sangat dianjurkan al-Quran?

Dalam keyakinan saya, perdebatan keji yang kita saksikan sekarang di antara para pemuka kedua kelompok telah menjadi serangan berdarah, yang pemicu awalnya adalah memperbesar perbedaan-perbedaan sektarian dan membayangkan bahwa itulah kebenaran yang tak terbantahkan. Menentangnya dianggap sebuah kefasikan dan perbuatan bidah, bahkan dianggap keluar dari ajaran Islam. Andai saja perbedaan-perbedaan ini diajarkan para syekh atau pihak-pihak yang berkepentingan kepada murid-murid mereka melalui kajian ilmiah yang benar, dengan motif benar-benar demi rida Allah serta demi ilmu dan kebenaran, niscaya itu akan menjadi kebaikan bagi mereka dan kaum muslim.

Saya selalu menyatakan, sejak kecil kami di Al-Azhar mengkaji berbagai kajian yang didasarkan pada pluralisme, perbedaan, dan pendapat-pendapat lain, terutama dalam bidang fikih dan ilmu kalam (teologi) yang di dalamnya terkandung perbedaan-perbedaan tajam antara Asy’ariyah, Muktazilah, Maturudiyah, Syi’ah, Salaf, dan Sufisme. Dengan kajian-kajian terhadap berbagai perbedaan tersebut diharapkan di kemudian hari tidak terjadi perpecahan yang menimbulkan pertumpahan darah, khususnya di antara pelajar yang menimba ilmu di sana. Salah satu hal yang sangat disesalkan jika perbedaan-perbedaan ini menjadikan seseorang dikeluarkan dari Islam, yang berbeda dinafikan, dan pribadi seseorang dipandang buruk karena berbeda mazhab. Bahkan, saat bertemu pun tidak mau bersalaman.

Lebih buruk lagi, kini perbedaan-perbedaan ini tak lagi terbatas pada bidang-bidang ilmu dan kajian, sebagaimana sebelumnya. Para penceramah membawa dan menggiringnya di jalan-jalan, masjid-masjid, dan kajian-kajian di kota-kota besar dan rumah-rumah. Mereka membicarakan perbedaan-perbedaan di tengah masyarakat luas, orang-orang awam, dan para pemuda yang memiliki kecenderungan mudah tersulut emosinya, yang tentu saja hal itu sangat berbahaya. Apalagi, para penyebar perpecahan ini menggunakan kaset dan buklet-buklet yang sengaja mereka sebar di tengah-tengah masyarakat awam.

Pada beberapa tahun terakhir peperangan itu beralih ke dunia maya. Kita saksikan berbagai perang kata-kata di dunia maya antara kelompok Ahlusunnah dan Syi’ah, antara Salafi dan Sufi, dan antara Wahabi dan lainnya. Orang-orang mengingkari apa yang mereka dengar dan tidak memercayai apa yang mereka lihat. Mereka melihat para ulama dari kedua kelompok saling melempar tuduhan tentang tahrif (pengubahan) al-Quran, mengafirkan apa yang mereka sebut sebagai quburiyun (orang-orang yang menganjurkan ziarah kubur), dan tuduhan-tuduhan lain yang sebenarnya penuh muatan politik. Umat tidak memetik manfaat apa pun selain perpecahan, dan Majma’ Buhuts(Dewan Kajian) Al-Azhar telah mengumumkan penolakan resmi atas debat-debat di dunia maya ini.

[Kemudian Ahmad Thayyib mengutip ucapan Imam Abdul Husain Syarafuddin Amuli] Benar, dengan menyatukan barisan dan mempererat ikatan persatuan dengan sikap Anda yang mengakui mazhab Ahlulbait dan menganggapnya sebagai bagian dari mazhab-mazhab Anda sekalian, maka setiap penganut mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali memandang Syi’ah keluarga Nabi saw seperti sebagian Anda memandang sebagian yang lain. Dengan demikian, barisan kaum muslim menjadi semakin kuat dan ikatan persatuan mereka kian erat.”

Sumber:
Majalah Risalah al-Taqrib, edisi 80, hal.96-98.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2024 Syiahpedia. All Rights Reserved.