Syiahpedia
MENU

Oleh Muhammad Rusli Malik (Pembina Rumah Kajian Alquran al-Barru)

Karena kenabian berkaitan dengan langit, dengan Yang Maha Kuasa, maka nabi paling sering dipahami sebagai sosok yang tidak membumi. Seakan setiap perbuatannya adalah atraksi sim-salabim, abrakadabra, kun-fayakun. Mantra-mantra disemburkan, doa-doa dipanjatkan. Lalu semuanya terjadi begitu saja. Bahasa agama menyebutnya mukjizat.

Padahal tidak begitu adanya. Dasar kenabian bukan keterampilan memainkan sulap. Bukan kecekatan tangan memperdayai mata manusia.

Dasar kenabian ialah sifat kemanusiaan paling mulia dan universal. Yaitu kecerdasan (fathanah), terpercaya (amanah), komunikatif (tabligh), benar (shiddiq), dan tanpa pamrih (ikhlash). Kualifikasi seperti itu tak diperoleh di bangku sekolah, tak juga di padepokan-padepokan ilmu kanuragan sadulur papat.

Kualifikasi seperti itu adalah hasil aktualisasi sempurna seluruh potensi bawaan insan. Sehingga yang bersangkutan (dalam hal ini Sang Nabi) menyatu padu dengan seluruh realitas alam: alam natural, alam rasional, alam sosial, dan alam spiritual. Makanya Nabi disebut sebagai Rahmatn Lilalamin (catatan: kata alam di dalam frasa ini adalah berbentuk jamak).

ALAM NATURAL

Menjelang hijrah, Nabi hendak dibunuh. Para algojo telah mengepung rumahnya. Darahnya sudah siap ditumpahkan. Tokoh-tokoh Quraisy anti Muhammad telah mempersiapkan pesta kemenangan. Bagi mereka ini hanya soal waktu. Karena malam tiba, alam gelap, para algojo terpaksa menunggu datangnya pagi. Lantas mereka semua terlelap. Pulas.

Secara natural, tertidur ialah hilangnya kesadaran terhadap alam indrawi. Sementara naturalitas malam adalah keadaan tertelannya fenomena sekitar ke dalam labirin gulita. Nabi lalu memanfaatkan situasi tersebut. Ia meminta kepada Ali untuk menempati peraduannya, untuk mengambil alih ‘takdir’-nya. Untuk dieksekusi. Dan, tanpa ragu, Ali siap.

Di tengah gulita itulah Nabi meninggalkan rumahnya. Mengendap di antara geletakan tubuh tak berdaya para assassin. Begitu fajar mulai terang, baru mereka sadari bahwa yang tidur di pembaringan itu sudah bukan Muhammad. Mereka bergegas menunggangi kuda-kuda binal mereka. Mengejar target yang telah lama meninggalkannya.

Saat matahari mulai mengintip, Nabi menyadari bahwa meneruskan perjalanan di padang yang gersang dan terbuka, sama saja dengan mempertontonkan diri kepada para durjana. Beliau kemudian mengajak Abubakar, sahabatnya, untuk naik ke atas gunung yang tinggi, dan bersembunyi di dalam goa yang gelap.

Di sini Nabi mengajarkan kita bahwa kenabian itu adalah mengikuti hukum-hukum alam. Malam adalah saat pelarian paling tenang. Goa di puncak gunung adalah tempat persembunyian paling aman.

Nabi pasti berdoa. Dan doanya pasti diijabah. Tapi doa Sang Nabi tidak menjadi excuse untuk meninggalkan sikap natural. Sebab Nabi tahu persis bahwa hukum alam adalah hukum Tuhan juga. Melangkahinya sama dengan melangkahi otoritas Tuhan.

ALAM RASIONAL

Di Perang Uhud, Madinah menghadapi lawan yang datang dengan dendam membara, amarah membuncah,  atas kekalahan mereka di Perang Badar sebelumnya. Nabi sendiri yang memimpin Pasukan. Sementara dari pihak Kafir Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan.

Sehingga berhadap-hadapanlah antara Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf versus Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdul Manaf. Peristiwa ini mengingatkan kita saat Habil bin Adam diserang oleh Kabil bin Adam.

Kendati Nabi tidak pernah menjadi tentara profesional sebelumnya, atau belajar ilmu militer di pusat peradaban masa itu, tapi taktik dan strategi militernya sempurna dan rasional. Pasukan pemanah ditempatkan di punggung bukit, bertugas melindungi pasukan kaveleri yang menghadapi gerak maju musuh. Formasi dan kerja sama kedua pasukan ini menjadi kunci kemenangan. Kepada pasukan pemanah, Nabi berpesan: “Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan posisi.”

Dan ternyata benar. Pasukan musuh tidak mampu menembus pertahanan Tentara Madinah. Mereka mundur. Sayangnya, saat kemenangan sudah di tangan, sebagian prajurit pasukan pemanah di punggung bukit meninggalkan pos mereka. Cinta dunia dan sikap irasional membuat mereka melupakan pesan Nabi sebagai Panglima Perang. Akhirnya, kemenangan berubah jadi kekalahan fatal.

ALAM SOSIAL

Sewaktu tekanan terhadap umat Islam di Mekah kian meningkat, Nabi meminta sahabat-sahabatnya yang bersedia untuk berhijrah ke Habasyah. Utsman bin Affan yang memimpin rombongan pertama (jumlahnya sekitar 11 orang) diminta menemui Raja Najashi agar berkenan menerima mereka ‘menumpang’ di negeri Nashrani itu. Berhasil. Rombongan kedua menyusul, dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib.

Peristiwa ini rupanya membuat marah pemuka Quraisy anti Muhammad. Mereka lalu mengirim Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah untuk meminta Najashi mengusir mereka kembali ke kampung halamannya. Dengan alasan bahwa para ‘pelarian’ itu adalah budak-budak bodoh yang telah murtad dari agama moyangnya.

Sebagai Raja yang arif, Najashi tidak menerima begitu saja tuduhan itu. Ia meminta wakil mereka untuk berbicara. Tampillah Ja’far bin Abi Thalib:

Kami dulunya memang bodoh dan penyembah berhala, memakan bangkai, senang dengan pertumpahan darah dan banyak berbuat mungkar. Sampai suatu saat Allah swt mengutus Nabi-Nya dari kalangan kami. Kami kenal betul bagaimana nasabnya, kami sangat percaya dan yakin akan kejujurannya. Dia mengajak kami untuk mengimani Tuhan Yang Esa  dan melarang menyembah batu dan berhala. Dia mengajarkan kami untuk selalu berkata dan berprilaku jujur, bersilaturrahmi, berbuat baik kepada tetangga, dan melarang berbuat cela. Namun mereka ini malah memusuhi kami. Mereka ingin supaya kami kembali menyembah berhala. Sebab itu kami datang ke negeri yang Anda pimpin, kami memilih Anda dibanding orang lain.”*

Dari caranya berhubungan dengan—dan memperlakukan secara legal formal—pemimpin sebuah negara dan dari isi pidato pembelaan Ja’far, kita bisa melihat betapa ketatnya Nabi mengikat dirinya dengan tata krama sosial. Tidak ada tanda yang bisa kita baca dari sana bahwa Nabi, sebagai Utusan Tuhan, boleh seenaknya menempatkan dirinya di atas hukum-hukum sosial politik yang berlaku.

ALAM SPIRITUAL

Kendati memahami betul (dan bertindak sesuai dengan) hukum-hukum alam, rasional dan sosial, tetapi pada saat yang sama, Nabi tidak pernah kehilangan kontak batinnya dengan alam rohani. Bahkan boleh dikatakan bahwa perbuatan aktual Nabi di tataran natural, rasional dan sosial tersebut adalah manifestasi dari entitas spiritual yang memenuhi jiwanya.

Bagi Nabi, bukan hanya jiwanya yang menjadi lokus tajalli Ilahi, tapi seluruh eksistensi dirinya. Yang meliputi Sukma dan raganya. Ilmu dan amalnya. Iman dan ibadahnya. Muhammad, Sang Nabi, adalah puncak piramida “ahsanu taqwim” dan inti sari dari sari “khairul bariyyah”. Kalau Allah adalah “kanz makhfiyan” (perbendaharaan yang tersembunyi) maka Muhammad saw adalah “kanz ma’rufan” (perbendaharaan yang dikenal). Karena hanya melaluinyalah manusia bisa mengenal Allah secara sempurna.

Allah sendiri yang mendeklarasikan di dalam Kitab Suci-Nya bahwa Dia dan para malaikat-Nya tak pernah tak bersalawat kepada Sang Nabi.** Maknanya, Allah dan para malaikat tidak pernah terpisahkan dari Nabi.

Pesan pentingnya ilah bahwa Allah telah mempersonifikasi Diri-Nya dan para malaikat-Nya dalam rupa Muhammad. Sehingga memahami Muhammad sama dengan memahami Allah dan alam malakut beserta penghuni-penghuninya yang suci.

Wajarlah jikalau Tolstoy, penulis, penyair dan filosof Rusia, menyimpulkan sosok Muhammad sebagai: “Muhammad adalah seorang pembangun dan sekaligus utusan (Tuhan). Ia adalah di antara manusia besar yang sangat peduli  pada (pembangunan) tatanan sosial. Kepeduliannya tu adalah bukti bahwa ia memandu seluruh komunitas menuju kepada cahaya kebenaran, memilih jalan perdamaian dan ketenangan, menganut pola hidup asketisme, menghindari pertumpahan darah dan mengorbankan manusia, memudahkan jalan bagi pembangunan dan peradaban. Ini adalah sifat yang luar biasa yang hanya orang kuat yang bisa memilikinya, dan manusia seperti dia adalah pantas dihormati dan dikagumi.”***

Apa yang dikatakan Tolstoy itu bisa dilacak dari sikap Nabi saat menghadapi fakta tentang adanya masjid yang dibangun untuk memecah belah umat. Allah meminta umat untuk tidak salat di masjid seperti itu (QS.9:108). Artinya, masjid tidak boleh menjadi sumber malapetaka. Masjid seharusnya menjadi simbol maslahat.

Artinya, masjid tidak boleh dibaca sebagai elemen spiritual belaka. Masjid juga adalah elemen natural, rasional dan sosial. Karenanya Nabi memperlakukan masjid sebagai pusat pembangunan tatanan sosial yang berkemanusiaan, berkeadilan, dan berkeadaban.

KESIMPULAN

Andai Nabi hidup di masa pandemi ini, maka solusinya pasti akan mematuhi hukum-hukum alam, akal, sosial, dan spiritual sekaligus. Tidak akan terjadi dikotomi di antara elemen-elemen itu. Saat mendengar informasi tentang menyebarnya penyakit menular di Damaskus, Nabi bersabda:

Jika kalian mendengar wabah menjangkiti suatu negeri, maka janganlah kalian menuju ke sana, namun jika dia menjangkiti suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dan lari darinya.(HR. Bukhari no. 5289)

___________

Sumber: Majalah Syiar Edisi Agustus-September 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2024 Syiahpedia. All Rights Reserved.