Syiahpedia
MENU

22 BAHMAN

Kategori: Artikel

Oleh Dr. Muhsin Labib

Syiahpedia.id- Sejak jatuhnya dinasti Otoman (yang diratapi oleh para penggemar utopia khilafah) dunia Islam terpuruk dan tercabik oleh kolonialisme Imperialisme. Konflik dan pemberontakan terjadi di setiap negara.

Hijaz sebagai pusat agama Islam disulap jadi properti satu orang dengan lusinan istri dan selir lalu diberi nama keluarga. Mesir yang dianggap sebagai kiblat peradaban Islam justru tergadai oleh perjanjian Camp David setelah keok dalam perang 6 hari.

Indonesia, sebagai negara terbesar di dunia Islam, juga mengalami fase-fase sulit termasuk menghadapi pemberontakan demi pemberontakan seperti usaha kudeta PKI, perlawanan NII hingga tragedi berdarah Tanjung Priuk. Rezim ORBA telah menyisakan trauma lama dan menciptakan konflik aneka kepentingan. Alhasil, dunia Islam sedang bergejolak.

Tiba-tiba dunia dikejutkan oleh gelegar besar. Dunia Islam seolah mengalami gempa besar. Umat Islam yang hanya tahu tentang Arab sebagai pusat Islam dan menganggap apa yang dianutnya sebagai satu-satunya Islam tercengang. Lelaki tua bersorban hitam tiba-tiba menjadi headline surat kabar dan topik berita radio dan televisi dunia, termasuk Indonesia. Sebuah nama baru dalam sekejap menjadi buah bibir dan tema utama perbincangan. Iran adalah nama yang tertutup oleh nama besar Mesir dan Saudi sekonyong-konyong mendunia. Syiah adalah sebutan asing yang tiba-tiba hadir dalam setiap forum. Setiap menit breaking news mewartakan detik per detik pernyataan penting pria berjenggot yang dikerumuni insan-insan di sebuah desa di pinggiran kota Paris yang memutih salju.

Pria kelahiran Khomein itu menyihir penduduk dunia saat menuruni anak tangga Air France di Tehran menumbangkan kerajaan Shahan Shah Reza Pahlevi, anak emas AS di Timur Tengah. Majalah Time, Le Monde, Der Spiegel dan seluruh media cetak berlomba memajang paras kharismatiknya.

Dunia digegerkan oleh sebuah revolusi mistik yang menggeser kehebohan revolusi Perancis, revolusi Industri Inggris dan revolusi Bolshevik.

Dengan gerakan multi faksi filosof dan agamawan (dari belahan dunia di luar radar dunia Islam yang bercorak Arab) memimpin sebuah revolusi berdimensi mistik, filosofis dan politik pada Februari 1979 dan membuang puing-puing kekaisaran Persia berusia 2500 tahun ke tong sampah sejarah. 22 Bahman mengabadi sebagai monumen sejarah kebangkitan melawan tiran arogan.

Umat Islam di seluruh dunia menyambut revolusi ini dengan gegap gempita seraya menganggapnya sebagai kebangkitan Islam. Tak ada yang menyebut Syiah dan tak satupun yang mempersoalkan ke-Persia-an.

Di Indonesia semua ormas, bahkan kelompok yang beraroma wahabi pun menyambutnya. Generasi muda terutama mahasiswa, yang sebagian menjadi tokoh politik saat ini, mengelu-elukan nama pencetus revolusi itu. Ayatullah Khomeini adalah nama yang sangat populer. Betapa tidak? Mereka yang kecewa terhadap partai-partai Islam dan terhadap Orba juga gerakan-gerakan radikal, menemukan sosok ulama yang bukan hanya memimpin upacara doa dan memberikan nasihat tapi mampu menggerakkan bangsa dengan peradaban menjulang menumbangkan monarki yang kuat dan represif.

Mereka mulai penasaran tentang bangsa ini dan mencaritahu tentang dasar dan latarbelakang munculnya revolusi besar ini. Kedubes Iran di Menteng menjadi kewalahan melayani gelombang pemuda dan mahasiswa yang datang dari seluruh penjuru Tanah Air untuk mendapatkan penjelasan dan informasi seputar revolusi, Iran, profil Imam Khomeini serta pemikirannya.

Dahaga penasaran para pemuda berwarna hijau yang islamis dan yang berwarna merah yang sosialistik juga yang abu-abu terhapus oleh dua pemikir putra revolusi dengan dua pendekatan yang saling melengkapi. Ali Shariati yang menghidupkan gairah proletarianisme dengan analisa anti kelas yang dihadirkan dalam retorika yang menggelegar. Murtada Muthahhari mengupas pandangan-pandangan Barat modern dari Rasionalisme Cartes, Empirisisme Locke, Positivisme Comte, Idealisme Hegel, Eksistensialisme Sartre lalu Marxisme hingga pragmatisme James dan Psikoanalisa Freud dengan basis filsafat peripatetik Ibnu Sina, Iluminasionisme Suhrawardi, monisme Ibnu Arabi dan Transendentalisme Sadra. Semua dijungkirkan dengan aksioma dan postulat yang kokoh.

Tiga nama baru hadir lalu menjadi buah bibir dan tema utama perbincangan. Iran, Khomeini dan Syiah. Terlalu banyak dan luas untuk diungkap namun terlalu sedikit yang benar-benar memahami tiga nama ini.

Pada masa itu, Khomeini terlalu kontras dengan citra baku agamawan di sini dan dunia Islam, Iran terlalu asing bagi mayoritas umat yang menganggap Saudi sebagai ikon Islam dan Syiah terlalu “sesat” untuk dipelajari.

Terlepas dari itu semua Khomeini telah menorehkan sejarah monumental yang takkan bisa ditolak bahkan oleh para penyandang disabilitas intelektual bahwa dia memadukan spiritualis yang sakral dan demokrasi yang propam.

Ringkasnya ulama faqih yang memiliki pengetahuan yurisprudensi multi mazhab ini, paling tidak, berhasil menegakkan tiga pilar negara modern Iran yang menjadi ciri khas di dunia saat ini, yaitu :

a) menumbangkan monarki berusia lebih dari 1000 tahun;

A. Menawarkan kepada rakyat pilihan membentuk sistem negara dalam referendum dengan partisipasi terbesar dalam sejarah manusia.

B. Mendirikan sistem republik berdasarkan kehendak mayoritas rakyat

C. Menjadikan Islam dasar sebagai konstitusi.

E. Mempersembahkan model pemerintahan yang mengharmoniskan divine legitimacy dan public acceptability.

F. Membentuk dua lembaga otoritatif sebagai representasi Pemimpin Tertinggi yang merupakan lembaga tertinggi negara, yaitu Dewan Garda Konstitusi yang mengawal parlemen dan Dewan Penentu Kemaslahatan yang menjadi mediator antara Parlemen yang mewakili suara rakyat dan Dewan Garda yang merepresentasi doktrin primer agama.

G. Memasukkan penolakan terhadap eksistensi perampas Palestina dalam undang-undang negara.

Kepergiannya telah meyatimkan para pengikut dan pecintanya di seantero bumi. Jenazahnya diantar oleh lebih dari 20 juta rakyat Iran pada 3 Juni 1989. Dia tak hanya menulis buku, tak hanya mencetak ribuan ulama dan cendekiawan serta pejuang dan tak hanya menelurkan ide-ide cemerlang namun mewujudkannya dan lestari hingga detik ini.

Suatu saat wartawan senior Time dalam wawancara, bertanya, “revolusi besar di Eropa menciptakan kemakmuran, sedangkan revolusi Anda justru menimbulkan kebangkrutan (akibat dikucilkan dunia Barat). Bagaimana tanggapan anda?”

“Revolusi kami ciptakan bukan untuk makan semangka yang lebih besar,” jawabnya tegas.

Republik Indonesia yang dirintis oleh Bung Karno dan RI Iran yang didirikan oleh Imam Khomeini adalah dua negara kaya yang merupakan representasi umat Islam Sunni dan Umat Islam Syiah berpeluang menjadi dua pemimpin dunia Islam membangun persatuan dan melawan imperialisme, kapitalisme dan rasisme.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2024 Syiahpedia. All Rights Reserved.