Syiahpedia
MENU

Oleh Musa Kazhim Alhabsyi

Wahai para pengikut Rasul dan Ahlulbait Nabi yang budiman. Kalian yang kerap diserang gelombang fitnah. Hingga olok-olok adalah sarapan pagi yang harus kalian telan, sebelum bersantap malam dengan stigmatisasi, labelisasi, naming, framing, dan lain-lain. Anggaplah semua itu risiko murah-meriah yang harus kalian pikul demi cinta dan kerinduan kalian kepada Nabi dan Ahlulbait.

Ingatlah bahwa cara melawan semua itu bukan dengan meniru perilaku yang sama. Jangan memberi reaksi sekedar untuk reaksi. Menanggapi sekadar untuk dianggap eksis. Sehingga seolah kalian memang penganut kebatilan dan kesesatan yang tak punya alamat kebenaran yang jelas untuk dituju. Ingatlah bahwa kesesatan orang-orang bodoh terlihat dari kebingungan dan kekacauan pola pikir, tutur kata dan tindak laku mereka. Golongan yang sebenarnya sesat tak punya tujuan yang jelas, seperti orang yang sedang mencari rumah tanpa alamat yang jelas atau penjahit yang kehilangan jarum dalam tumpukan jerami.

Kini saatnya kalian harus lebih berpijak pada kebenaran dan keadilan. Kebenaran akan membawa kalian kepada ketenangan dan keamanan, yang tak lain merupakan buah dari keimanan. Jawablah semua tuduhan dengan cahaya ilmu dan pandu akal. Ilmu adalah cahaya yang terang dan menerangi, sedangkan akal adalah jembatan menuju ke sana. Adapun dusta, ya tetaplah dusta yang gelap nan singkat. Siapa saja yang kalian anggap berdusta harus kalian yakini takkan bisa berdusta selamanya—kebenaran dan tentu kematian pasti akan mencegatnya. Dusta mereka sudah sepatutnya tak menggusarkan kalian yang merasa berpihak pada kebenaran dan kejujuran, berguru kepada Ahlulbait yang tegak bagai mercusuar di altar kebenaran dan keadilan.

Berlakulah adil kepada siapa saja, termasuk kepada mereka yang selama ini tidak berlaku adil kepada kalian. Ingatlah terus bahwa laku adil itu sempurna dan baik, apapun hasilnya. Berlakulah adil sekalipun sedikit yang mau melakukannya atau banyak yang menertawainya. Berlakulah adil walaupun tak ada harapan kalian diperlakukan serupa, lantaran kalian yakin bahwa keadilan itulah yang paling benar dilakukan dan paling abadi dalam hukum alam.

Kenanglah kehidupan Nabi dan Ahlulbait dalam menghadapi segala rupa ujian dan cobaan. Terlalu banyak pelajaran di sana yang tak boleh disia-siakan. Ingatlah bahwa sejarah ini tak lepas dari hukum-hukum baku, karena pentasnya sama, alam kejadiannya sama, diatur dengan sunnatullah yang sama. Tak ada hal, peristiwa atau tindakan yang benar-benar baru di bawah kolong langit ini. Semua yang kini terjadi sudah pernah terjadi sebelumnya, meski muncul dalam ragam tampilan yang berbeda-beda. Bersikaplah tenang dan tenteram dalam sistem Ilahi yang menguasai segala sesuatu. Berjalanlah di muka bumi pelan-pelan, seperti jalannya mereka yang yakin pasti sampai tujuan.

Sunnatullah yang melambari hukum-hukum alam ini tetaplah sama, takkan pernah berubah, kapan pun dan di mana pun. Dan inilah fakta yang tak dipahami dan disadari oleh mereka yang kini berusaha merusak dan menghinakan kalian. Dengan prinsip ini kalian akan terus berlaku adil dan bijak—meminjam ungkapan Imam Ali—meski langit telah membeku dan bumi telah berkobar api. Sungguh singkatnya hidup di dunia dalam puncak kecemasan dan ngarai ketakutan tak boleh membuat kalian lupa pada ajaran Rasulullah dan Ahlulbait akan dahsyatnya alam baka yang menanti di depan.

Baginda Nabi Besar Muhammad dan Ahlulbait telah mengalami segala rupa cemooh, kecaman, blokade, propaganda busuk, penistaan, labelisasi, stigmatisasi, blokade, boikot, perang urat saraf, perang fisik, pembantaian, dan segala rupa kekejaman lain yang jauh lebih besar daripada yang kalian alami saat ini. Tapi, sejarah telah memperlihatkan pada semua yang mau membuka mata siapa yang pada akhirnya meraih kemenangan dan kemuliaan abadi. Siapa yang kini namanya dipuja ratusan juta manusia,  kuburannya disesaki puluhan ribu peziarah, dan menjadi magnet kaum bijak bestari yang berhati bersih dan berakal cemerlang.

Jagalah akhlak yang baik, sopan santun yang luhung dan sikap ilmiah yang terukur meski seolah kalian lihat semua itu sebagai kesia-siaan dalam menghadapi kaum bodoh, dungu dan ahmaq. Akhlak mulia, sopan santun dan sikap ilmiah memang hanya layak bagi manusia yang berakal. Jadilah di antara manusia yang berakal itu. Jangan kalian canggung bersikap demikian lantaran gembar-gembor penuduh kalian sebagai penipu, munafik dan picik. Jangan pula merasa harus ikut cara-cara bodoh untuk menanggapi orang-orang bodoh, karena sekali-kali mengikuti mereka hanya akan menjadikan kita bagian dari golongan mereka.

Jika kalian melihat olok-olok dan caci-maki pihak lain, ingatlah bagaimana perlakuan yang sama telah menimpa manusia-manusia yang jauh lebih suci dari kalian, Nabi dan imam-imam kalian. Lihatlah bagaimana mereka yang jauh lebih layak “memaki”—jika makian itu memang cara yang tepat—justru tidak pernah memaki dan mencaci.

Nabi yang merupakan penerima wahyu dan pembawa Islam yang paling absah dan paling berhak untuk mengklaim kebenaran tak pernah merasa perlu terlibat saling klaim kebenaran atau menanggapi pemaki dan pendusta dengan makian dan dusta setimpal. Beliau tetap saja santun menyampaikan dan menjelaskan kebenaran yang sesungguuhnya menjadi tugas asli dan wewenang mutlak beliau, tanpa rasa benci, terburu-buruh atau terancam. Bukankah kita ini hanya penyambung yang tak asli bagi tugas dan wewenang penyampaian kebenaran agama Nabi dan Ahlulbait? Bukankah kita ini hanya ngalap berkah dan keridhaan serta berupaya berbakti dengan mendukung tugas mereka padahal sebenarnya semua itu bukan tugas kita? Bukankah tugas utama kita hanyalah mengikuti apa yang Nabi dan Ahlulbait sampaikan kepada kita? Lalu, mengapa kita merasa lebih berapi-api dan bernafsu dalam menyampaikan apa yang kita persepsi sebagai kebenaran itu sehingga kita terperosok dalam prasangka, ketidakadilan, sikap saling caci, bahkan menikmati saling umbar kata-kata kasar?

Jangan galau jika dituduh menyembah Ali, punya Al-Qur’an palsu atau sejenisnya. Jangan pernah khwatir tuduhan-tuduhan dusta bakal mengubah apapun dari kenyataan atau menciderai apapun dari kebenaran. Ingatlah bahwa telah ada kaum sebelum mereka yang melontarkan tuduhan lebih konyol, bukan kepada manusia biasa seperti kita atau kepada manusia suci seperti Nabi dan Ahlulbait, tapi kepada Allah itu sendiri dengan mengatakan bahwa tangan Allah telah terbelenggu. Mereka menuduh Allah itu papa tak sanggup berbuat apa-apa. Juga sudah ada tuduhan kepada para nabi sebelum Rasul sebagai para pendusta, sok suci, sok benar, bodoh, bahkan tukang sihir yang kerasukan setan. Tapi, apakah tuduhan-tuduhan itu mengubah kenyataan? Tidak. Tuduhan baru berguna apabila yang dituduh itu pelan-pelan tapi pasti terbukti sesuai (atau menyesuaikan diri) dengan tuduhan. Maka itu, jika kalian yakin bahwa semua tuduhan itu dusta, buktikan dengan kebenaran, berikan penjelasan dan tunjukkan dengan pembuktian. Orang bisa seenaknya mengkhayalkan sesuatu yang salah, merajut kebohongan dan melontarkan tuduhan dusta, tapi dia sendiri takkan bisa memahaminya. Hanya kebenaran yang bisa dipahami, dinalar dan dijelaskan secara logis. Kebenaran tak pernah pelit memberikan pembuktian dan kenyataan tak pernah lelah memunculkan penampakan.

Wahai para pengikut Nabi dan Ahlulbait…

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib telah mengajarkan strategi menghadapi fitnah yang paling jitu: hadapilah fitnah dengan bersikap seperti anak onta yang punggungnya tak bisa ditunggangi dan susunya tak bisa diperah. Apa maksudnya? Agaknya beliau ingin menunjukkan ada dua cara penyulut fitnah memanfaatkan momen: menunggangi dan memerah. Atau, ada dua kelas pendukung fitnah: kelas penunggang dan kelas pemerah.

Kita tentu bisa membedakan kelas mana yang menunggangi dan mana yang memerah fitnah. Penunggang ingin mengendarai fitnah, dan pemerah ingin meminum susunya. Penunggang ingin manfaat jangka panjang dari fitnah, sementara pemerah hanya mau jangka pendek saja, keburu susu basi. Maka itu, jangan berikan punggungmu untuk tuan-tuan yang haus kekuasaan, dan jangan pula berikan susumu untuk budak-budak bodoh yang kelaparan. Jangan mau dimanfaatkan elit ataupun massa. Tetaplah menggendong kebenaran yang ajek, abadi dan tegak meski dihajar badai sekencang apapun. Tetaplah menempel pada keadilan yang merupakan puncak kesempurnaan dan jalan kemenangan paling hakiki.

Biarkan mereka yang merasa berkuasa di atas tak bisa menunggangi punggung kalian, dan mereka yang merasa di bawah terancam oleh pesatnya kemajuan Syiah dan sebagainya tak bisa memerah susu kalian. Inilah strategi Imam Ali menghadapi fitnah. Dan kita semua kini dapat dengan mudah melihat bagaimana umat manusia mengagumi Imam Ali setelah ribuan tahun hidup di dunia. Satu-satunya sahabat dan khalifah nabi yang kata-katanya terpatri dalam prasasti di Gedung PBB. Dan satu-satunya khalifah yang makamnya tak pernah sepi dari pengunjung pengagum dan satu-satunya khalifah yang Nahjul Balaghah-nya diakui universitas-universitas dunia sebagai khazanah pemikiran Islam paling kaya.

Ingatlah hanya kebenaran dan keadilan yang bisa menjamin kemenangan yang sejati, yang tidak saja berlaku di sisa umur yang singkat ini, tapi berlanjut terus sampai bergenerasi-generasi setelahnya bahkan sampai alam keabadian. Jika kalian bingung dan aneh akan kelakuan orang-orang yang merasa benar sendiri, maka ingatlah bahwa semuanya sudah pernah terjadi dan bakal terjadi lagi sampai Allah memutuskan untuk menghakimi semua manusia, kelak di alam keabadian. Ingatlah selalu bahwa kalian mengaku sebagai pengikut setia Nabi dan Ahlulbait, maka buktikan dan persaksikanlah klaim itu dengan kenyataan. Jadilah pengikut yang layak membawa kehormatan dan keagungan nama Nabi dan Ahlulbait. Teladanilah syiah Ali seperti Abu Dzar, Salman, Ammar, Miqdad, Malik Al-Asytar, Hujr bin Adi, Kumail bin Ziyad dan sebagainya.

Kebenaran akan tetap benar meski tak kita bela, dan kebatilan akan tetap batil meski banyak pembelanya. Dusta tetaplah dusta, yang mempercayainya tetaplah bodoh meski terlihat pandai. Kenyataan tetaplah kenyataan meski terus ditutup-tutupi, dan kepalsuan tetaplah kepalsuan meski ditampak-tampakkan. Kemuliaan tetaplah kemuliaan meski dihinakan dan dinistakan, dan kehinaan tetaplah kehinaan meski diagung-agungkan dan dijunjung-junjung.  Semua itu adalah kebenaran yang tak bisa berubah sekalian seluruh makhluk bersepakat mengubahnya. Allah tetaplah Pencipta meski semua manusia bermaksiat pada-Nya; Nabi Muhammad tetap makhluk paling mulia dan agung meski banyak yang meremehkannya; Ahlulbait tetaplah bintang-bintang pemberi petunjuk meski banyak yang berupaya mengubur mereka. Dan para pengikut mereka adalah paling baik di antara semua manusia meski tergulung gelombang fitnah yang dahsyat.

Marilah kita semua bercermin lalu bertanya: Sudahkah kita mengenal, menjaga dan memegang kebenaran agar dapat berpikir benar, bersikap benar dan berlaku benar? Sudahkah kita memeluk keadilan sekuat tenaga agar kita selalu mulia dan jaya bersamanya? Sudahkah kita memiliki keberanian menahan nafsu amarah dan bersit kebencian dalam rangka memegang kebenaran dan menjaga keadilan? Maukah kita mengambil risiko apapun dalam rangka merengkuh kebenaran, memeluk keadilan, dan menghiasi diri dengan kasih sayang? Jika kita sudah dapat menjawab dengan benar dan jujur semua pertanyaan di atas, maka tidak ada lagi kerisauan yang mengganggu kita. 

Saudara-saudaraku, bertakiyahlah karena begitulah sikap orang berakal, meski orang ahmaq yang suka bertengkar ingin kalian bersikap sebaliknya dan petantang-petentang mengumbar amarah dan memperlihatkan perbedaan. Carilah persamaan meski kalian punya perbedaan, karena persamaan adalah modal manusia bermasyarakat, dan perbedaan adalah sikap manusiawi di ruang privat. Jadilah seperti para pendekar sakti mandraguna yang tak lagi butuh panggung untuk mempertontonkan jurus-jurus maut. Tapi jangan pernah mundur dari gelanggang saat tiba waktu untuk menjaga kemuliaan dan kehormatan Allah, Islam, Rasul dan Ahlulbait. Perlihatkan kegarangan di medan tempur sembari tetap lemah-lembut dalam pergaulan bebas. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah. Dan bangsa ini  telah memperlihatkan penerimaan yang tulus pada kebenaran Islam, meski para pemimpin Islam kini telah mengecewakan dan menyia-nyiakan mereka.

Sekaranglah saatnya kalian bangkit melayani rakyat, menjadi terdepan dalam membela hak-hak mereka, menyegarkan cita-cita kemerdekaan, menghidupkan ikatan kebangsaan, dan bersama-sama mendorong kemajuan bangsa. Jangan pernah minder, ragu, bimbang atau kikuk menjadi minoritas dalam mazhab jika apa yang kalian lakukan dibutuhkan seluruh rakyat dan umat. Seperti Imam Ali yang menanam 10 ribu pohon korma untuk mereka yang bakal hidup kemudian, janganlah pernah meminta imbalan amal baik kalian dari mereka yang tak mau dan tak mampu membalas. Mintalah imbalan dan ganjaran dari Dzat Yang Maha Mampu Membalas dan Memberi imbalan dan ganjaran.

Ingatlah bahwa fitnah atau cacian apapun di dunia itu bersifat sementara, sehingga janganlah pernah takut menghadapinya. Jangan membalasnya dengan cara setimpal sehingga menyebabkan kalian harus menanggung akibatnya kelak di hari akhir. Ini perintah Allah dan teladan Nabi dan Ahlulbait suci panutan kita yang sejatinya suci dari dosa dan kesalahan, apalagi kita yang tak lepas dari kekurangan, dosa dan kesalahan.

Dan terakhir, berilah kritik tajam terhadap segenap tuduhan palsu tapi jangan sampai terjatuh pada sinisisme, sarkasme atau kata-kata pedas yang tak berguna. Orang yang melontarkan tuduhan palsu dan berbohong sangat gembira bila kalian menjawab dengan kata-kata kasar. Obat mujarab buat mereka hanyalah ungkapan kebenaran, kenyataan dan penjelasan yang terang benderang. Jika kalian menghadapi banteng yang berlari kencang mau menumbuk, jangan kalian ikut mengamuk dan bersiap menumbuk. Jika tak mampu jadi seperti rodeo yang mampu “memainkan” banteng hingga enak ditonton, setidaknya hindarilah sejauh mungkin. Jangan padamkan kobaran api dengan menghantam-hantam tumpukan abu apalagi dengan menyiraminya dengan bensin. Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan dan kemanusiaan itu terlalu berharga untuk dibuang percuma.[]

Terbit pertama kali di https://kajiankupas.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2024 Syiahpedia. All Rights Reserved.