Syiahpedia
MENU

ISIS

Kategori: Mozaik

DAISY (bahasa Arab: داعش), nama singkat untuk organisasi Negara Islam Irak dan Syam (الدولة الاسلامية في العراق و الشام) adalah sebuah organisasi takfiri yang merupakan cabang dari al-Qaeda. Setelah mendapatkan dukungan dari kekuatan regional dan internasional, ia menduduki wilayah besar Irak dan Suriah dan di wilayah perbatasan utara kedua negara. Dan, melakukan kejahatan manusia terburuk dan pembunuhan para penentangnya dari Syiah, Sunni dan lainnya, dan menyebabkan kerugian manusiawi, material dan budaya. DAISY seperti aliran Salafi Wahabisme Jihadis mengkafirkan dan menyesatkan setiap orang yang tidak bernaung di bawah benderanya, dan organisasi ini mengklaim pemulihan kekhalifahan Islam dan penerapan hukum seperti halnya pada masa Nabi saw.

Organisasi ini mendapat dukungan internasional dan liputan berita penuh oleh media Barat dan sejak awal pendiriannya telah menjadi berita utama paling penting dalam media dan berita internasional. Media Barat dan kekuatan besar berusaha menghadirkannya sebagai perwakilan Islam dan bahwa kejahatannya adalah penerapan penuh negara Islam dan agama.

Akar Munculnya DAISY

Dasar-Dasar Pemikiran

Salah satu pemikir pemikiran Salafi Jihadi percaya bahwa struktur pemikiran Salafi Jihadi untuk semua organisasi Salafi, termasuk DAISY, terdiri dari: beberapa prinsip-prinsip pandangan Ikhwanul Muslimin, gaya pergerakan Sayid Qutub, fikih politik Ibnu Taimiyyah dan madrasah salafiyah, referensi fikih dan akidah dakwah Wahabi.[1] Jika kita merujuk pada pemikiran resmi DAISY dan juga buku-buku yang diterbitkan olehnya seperti Al-Daulah al-Nabawiyah, I’lam al-Anām bi Milad Daulah al-Islam, dan Aqidatuna wa Manhajuna, disamping pamflet kecil yang berisi tema-tema penghancuran kuburan, makna Lailaha Illallah dan demokrasi, maka pernyataan pemikir salafi jihadi ini akan relevan sepenuhnya dengan apa yang diyakini oleh DAISY. [2]

Mengkafirkan

DAISY adalah orgnisasi takfiri yang perlu dipelajari sejarahnya dalam pemikiran Takfiri. “Takfir” dalam bahasa berarti tuduhan, dan konsepnya dalam syariat Islam adalah melihat Muslim lain sebagai kafir,[3] dan sebagian ahli bahasa berkata: Takfir adalah menisbatkan salah seorang yang ahli kiblat kepada kekafiran.[4].

Insiden takfir yang paling terkenal dalam sejarah adalah dikemukakan oleh kaum Khawarij pada masa kekhalifahan Imam Ali as, [5] dimana mereka mengkafirkan Imam Ali as. Ketika bani Umayyah hendak bebas dari Hujr bin Adi dan sabahat-sahabatnya, mereka menuduhnya dengan kafir dan kemudian membunuhnya. [6]

Ibnu Taimiyah mengemukakan pemikiran takfir dengan mengatakan: “Barang siapa yang berdoa di sisi pusara Nabi saw atau salah seorang yang saleh, dan meminta suatu kebutuhan adalah musyrik. Maka pelakunya harus diminta bertaubat, jika menolak maka harus dieksekusi”. [7]

Mirwais, paman Mahmud al-Afghani, mengambil hukum membunuh orang Syiah dari ulama Saudi pada saat kunjungannya ke Arab Saudi dalam insiden invasi orang Afghanistan ke Isfahan. [8] Mir Muhammad Ridhawi mati syahid pada tahun 1088 H atas rangsangan ulama Ahlusunah, dan Syekh Hurr Amili pun yang saat itu berada di Mekah hendak diteror pada tahun yang sama,akhirnya ia berlindung ke salah satu pejabat di sana, dan bermigrasi secara diam-diam ke Yaman. [9]

Bin Baz, salah satu mufti Wahabi, mengatakan bahwa Syiah Itsna Asyari adalah kafir karena mereka menyembah Imam Ali as.[10]

Korelasi intelektual dan Jihadis

Wahabisme

Kelompok Takfiri tidak memiliki tempat di muka bumi selama berabad-abad sampai Muhammad bin Abdul Wahhab muncul dan bekerja sama dengan keluarga Saud, lalu menghidupkan kembali pemikiran takfiri dan mengeluarkan fatwa bolehnya membunuh orang yang percaya kepada syafaat para malaikat, nabi dan wali Allah[11] serta memandang orang-orang Musyrik pada zamannya lebih buruk daripada zaman Nabi saw. [12]

Sebagai tindak lanjut dari jejak Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Jibrin mengharamkan zakat kepada kaum Syiah, karena mereka adalah orang-orang kafir menurut pendapatnya, [13] dan ia bersama Syekh Abdurrahman al-Barrak mewajibkan perang atas kaum Syiah karena kepercayaan mereka pada kewasian Imam Ali as dan pengadaan acara-acara duka untuk Imam Husain as. Kedua mufti ini dikenal telah berafiliasi dengan Wahabi. [14] DAISY juga mengambil konsep-konsepnya dari beberapa pemimpin intelektual, antara lain adalah: Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Sayid Qutub, Sayid Imam Abdul Qadir Abdul Aziz, Abdullah Azzam, Osama bin Laden dan Abu Mush’ab al-Zarqawi. Adapun mufti terakhir dari DAISY adalah Abu Hammam al-Atsri dan Abu Mundzir al-Syanqithi. [15]

Al-Qaedah

Al-Qaeda adalah salah satu organisasi Takfiri modern yang dimulai pada tahun 1988 di Peshawar, Pakistan, dan telah dikenal sejak 1995. [16]

Para pemimpin generasi pertama al-Qaeda adalah Abdullah Azzam, Bin Laden dan Aiman al-Zawahiri. [17] Nama al-Qaeda datang dari pasukan tempur yang melawan kelompok komunis di Afghanistan yang merebut pangkalan penting pada saat itu, dan kemudian menyebut pasukan itu sendiri dengan nama al-Qaedah. Elemen-elemen al-Qaeda adalah individu-individu yang telah menguasai pangkalan-pangkalan ini dan telah memperkokoh kekuasaan mereka atasnya. [18] Hal itu dengan dukungan Amerika Serikat, sebagaimana dinyatakan dalam buku otoritas menteri luar negrinya, Hillary Clinton, menekankan bahwa orang yang menciptakan al-Qaedah untuk konfrontasi dengan Uni Soviet adalah Amerika dan disepakati untuk mendeklarasikan Negara Islam pada 5/7/2013 supaya kita dan Eropa mengakui negara itu dengan segera. Hal itu dimaksudkan untuk membagi negara-negara Arab dan Timur Tengah pada umumnya. [19]

Salah satu kaidah dasar al-Qaeda adalah kebolehan membunuh warga sipil. Pada tahun 1998, Osama bin Laden, Aiman al-Zawahiri dan yang lainnya berpartisipasi dalam menandatangani dan mengeluarkan fatwa: Sesungguhnya membunuh orang Amerika dan para sekutu sipil dan militer mereka diwajibkan atas setiap Muslim di setiap negara kapan pun memungkinkan. [20]

Tahap-Tahap Pendirian

Nama organisai Al-Qaedah tidak layak disebut sebagai DAISY, karena tidak ada hubungan organisasi di antara keduanya kecuali hubungan intelektual dan historis. DAISY tidak pernah menjadi bagian dari al-Qaeda sehingga bisa terpisah darinya. [21] Setelah menghilangnya Pengawal Republik Irak dan orang-orang yang setia pada Saddam Husain [22] serta dinas keamanan Irak[23] dalam rezim Saddam Husain selama invasi AS ke Irak, maka DAISY beraksi secara sembunyi-sembunyi dalam kelompok-kelompok bersenjata anti pendudukan. [24] Ditambah lagi dengan kelompok-kelompok Salafi Takfiri di Irak. Kedua faktor ini membantu pembentukan DAISY .[25]

Setelah jatuhnya rezim Saddam Husain pada 2003, banyak anggota garda Republik Irak dan dinas keamanan Irak memasuki aksi bersenjata di bawah kedok kelompok Tauhid dan Jihad di Mesopotamia yang dipimpin oleh Abu Mush’ab al-Zarqawi, yang mengumumkan baiatnya untuk Osama bin Laden sejak 17/10/2004. Kemudian berdiri Dewan Syura Mujahidin yang dipimpin oleh Abdullah Rasyid al-Baghdadi pada 15/01/2006 yang termasuk dalam organisasi al-Qaeda di Mesopotamia, ditambah lagi dengan faksi-faksi lain seperti Pasukan Kelompok al-Manshura (Jaisy Thaifah al-Manshurah) dan pasukan Anshar al-Tauhid dan lainnya. Mayoritas kelompok-kelompok ini tidak lain hanya nama-nama dari satu badan militer rezim sebelumnya. Dewan itu adalah Dewan Kordinasi yang mengeluarkan keterangan-keterangan militer, politik dan hukum yang satu dengan menjaga setiap fraksi sebagai organisasi. Setelah pembunuhan Abu Mush’ab al-Zarqawi pada 7 Juni 2006, terbentuklah Koalisi al-Muthayyibin pada 06/12/2006 dan bergabung ke dalam Dewan Syura Mujahidin dengan semua faksinya dan faksi-faksi bersenjata lainnya. Kemudian pada 15/01/2007 dibubarkan semua faksi-faksi yang dibentuk untuk Dewan Syura Mujahidin, termasuk al-Qaeda di Mesopotamia, lalu dideklarasikan Negara Islam Irak di bawah kepemimpinan Abu Umar al-Baghdadi. [26]

Setelah kematian al-Zarqawi, ia digantikan oleh Abu Umar al-Baghdadi , dan setelah kamatian Abu Umar al-Baghdadi[27], kepemimpinan al-Qaeda dipegang oleh Ibrahim Awwad Ibrahim al-Badri al-Samarrai yang dikenal dengan Abu Bakr al-Baghdadi. [28] lalu ia menerima kepemimpinan Suriah dari al-Julani, pemimpin Front al-Nusrah, supaya menundukkan Irak dan Syam (Suriah) di bawah kekuasaannya. Dari situlah terbentuk Negara Islam di Irak dan Syam (NIIS) pada 2013. [29] [30]

Al-Qaeda di Irak

DAISY dan al-Qaeda percaya bahwa ada dua musuh di depan mereka, musuh yang jauh dan musuh dekat. Musuh yang jauh adalah peradaban Barat, dan musuh yang dekat adalah pemerintah dan kelompok-kelompok Islam yang tidak setuju dengan mereka dalam kepercayaan dan berbeda dengan mereka dalam penafsiran berbagai hal. [31] Al-Qaedah membuat segitiga geografi untuk menguasai atas kekuatan-kekuatan di kawasan, kemudian ia membuat Front al-Nusrah (Jabhat al-Nushrah) di Suriah di bawah kepemimpinan al-Julani dan kelompok Abdullah Azzam yang dipimpin oleh Majid al-Majid di Lebanon dan Abu Mush’ab al-Zarqawi di Irak. [32]

Al-Zarqawi berada di Afghanistan untuk melatih para pejuang Arab. Setelah pangkalan militernya pada tahun 2001 terkena rudal, ia lari ke Kurdistan Irak dengan berkordinasi dengan seorang pemimpin Anshar al-Islam dan menjalin hubungan dengan Gerakan Ansar Islam Kurdi yang dipimpin oleh Mulla Krekar. Mulla Krekar menentang kegiatan-kegiatan kelompok-kelompok militan Jihadi dan dituduh telah berkhianat, lalu diturunkan dari kepemimpinan Kelompok Anshar al-Islam dan digantikan oleh Abu Mush’ab al-Zarqawi. [33]

Al-Zarqawi[34] membaiat Osama bin Laden pada Desember 2004, [35] dan berada di Irak. Beberapa kelompok jihadis bergabung dengan al-Zarqawi, kemudian ia mendirikan organisasi al-Qaedah Irak di Mesopotamia. [36]

Al-Zarqawi dibalik serangan-serangan terorisnya yang paling mengerikan terhadap kaum Syiah, berusaha untuk menciptakan keretakan antara komunitas Sunni dan Syiah dan memecah belah diantara mereka. [37]

Pada tahun 2003, Amerika Serikat melancarkan invasi ke Irak dengan dalih memiliki senjata kimia dan hubungan Saddam Husain dengan al-Zarqawi, dimana menteri luar negri Amerika saat itu menuding al-Zarqawi sebagai penghubung antara al-Qaeda dan rezim Irak. [38]

Menurut sebuah laporan yang disiapkan oleh sebuah lembaga internasional tentang kelompok Takfiri di Irak, ditemukan keberadaan 150 kelompok jihadis yang aktif di Irak antara tahun 2003 dan 2006. [39]

Pendirian Negara Islam di Irak

Deklarasi Negara Islam di Irak diikuti oleh pembentukan dewan kepemimpinan. Dan, Hamid Daud Muhammad Khalil al-Zawi, yang dijuluki Abu Umar al-Baghdadi, memegang keamiran kaum mukminin di sana pada 21 Ramadhan, 2006. Tadinya ia merupakan pemimpim Pasukan Kelompok al-Manshurah (Jaisy al-Thaifah al-Manshurah) dan pada masa rezim sebelumnya bekerja di bagian keamanan dan menjadi salah satu pemikir pemikiran Salafi pada tahun 1985.

Dia terpilih sebagai ketua Dewan Syura Mujahidin di Irak, menggantikan Abu Mush’ab al-Zarqawi dengan nama Abu Abdullah al-Rashid al-Baghdadi, kemudian ia menjadi pemimpin Negara Islam. [40]

Dari Kerajaan Menuju ke Khilafahan

Para anggota al-Qaeda mengklaim bahwa mereka bercita-cita untuk menghidupkan kembali Kekhalifahan Islam, dan karena perealisasian kekhalifahan dianggap sulit dan tidak dapat dicapai, maka mereka segera membangun banyak kerajaan setelah memperluas jangkauan geografis mereka dan menghubungkan kerajaan-kerajaan itu satu dengan lainnya sehingga mereka mampu mendirikan apa yang mereka cita-citakan dari Negara Kekhalifahan Islam.

Abu Muhammad al-Adnani, juru bicara DAISY pada tahun 2014, menyatakan Abu Bakr al-Baghdadi sebagai khalifah umat Islam dalam deklarasi yang dibacanya, dan mengatakan bahwa janji Allah telah tercapai. [41]

Pada awalnya DAISY menduduki kota Fallujah dan kemudian memasuki Samarra untuk mengelabuhi tentara Irak, dan kemudian menduduki tiga provinsi yang berpenduduk mayoritas Sunni, yaitu Anbar, Nainawa dan Salahuddin. Kemudian ia pergi ke Mosul dan berkoordinasi dengan kelompok Baath dan kepemimpinan militer di sana, sehingga pada akhirnya ia berhasil menduduki kota tanpa perlawanan apapun. [42]

Al-Baghdadi juga menguasai Suriah utara dengan pengaturan mantan intelijen DAISY di Irak, Haji Bakr.[43] lalu ia mengumumkan bahwa Suriah telah bergabung dalam bingai khilafahnya. Ketika al-Zawahiri meminta al-Baghdadi untuk memfokuskan pekerjaannya di Irak dan menarik diri dari Suriah, ia menguasai semua sumur minyak di Deir al-Zour, Raqqah dan timur laut Suriah, dan merasa tidak butuh lagi kepada al-Qaedah pusat seraya berkata, ‘Saya memilih sendiri antara hukum Ayman al-Zawahiri dan hukum Allah, maka saya memilih hukum Yang Mahakuasa, dan mendahulukannya atas yang pertama. [44]

Kepemimpinan

Abu Mush’ab al-Zarqawi

Ahmad Fadhil (Fudhail) Nazzal al-Khalayleh, yang dijuluki Abu Mush’ab al-Zarqawi, pendiri al-Qaedah di Irak, lahir pada tahun 1966 di Zarqa, Yordania. Dia diusir dari sekolah Tsanawiyah pada usia tujuh belas dan tenggelam dalam kehidupan yang penuh dengan kekerasan, narkotika dan alkohol. [45] Mungkin juga kekerasan terhadap wanita. [46] Ia tahu kata-kata Jihad karena dipengaruhi oleh pidato-pidato Abdullah Azzam untuk jihad di Afghanistan. [47]

Pada pertengahan tahun delapan puluhan abad lalu dan khususnya pada tahun 1987 ia dijatuhi hukuman denda karena memiliki narkotika dan melukai seorang pemuda dengan pisau. [48] Ia melakukan perjalanan ke Afghanistan pada tahun 1989 [49] untuk melawan pasukan Uni Soviet di sana, tetapi mereka sudah pergi pada saat ia tiba, dan di sana ia bertemu Osama bin Laden. [50] Dia bekerja di sana sebagai reporter untuk salah satu majalah ekstremis. [51]

Al-Zarqawi kembali ke Yordania pada tahun 1993 dan dipenjara di sana dengan tuduhan telah berafiliasi kepada organisasi pembaitan Imam pada tahun 1996. Al-Zarqawi menghabiskan tujuh tahun dengan seorang jihadis Salafi di Yordania bernama Isham al-Barqawi, yang djuluki dengan Abu Muhammad al-Maqdisi, yaitu guru dan pembimbingnya, setelah ia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.[52] Ia dibebaskan dari penjara pada tahun 1999 di bawah amnesti kerajaan. Al-Zarqawi mulai berpikir untuk membagi dunia menjadi dua: Dunia Muslim Salafi Sunni, dan dunia orang-orang kafir yang meliputi semua kelompok dan golongan yang berpikir berbeda dari yang pertama. [53] Karakter al-Zarqawi terbentuk dari empat bagian: Kebaduian yang tumbuh dalam pelukannya, pengaruh ibunya, penjara dan ayah spiritualnya, Abu Muhammad al-Maqdisi. [54]

Haji Bakr

Namanya Samir Abdu Muhammad al-Khalifawi, mantan perwira intelijen di angkatan udara di era Saddam. Dia dipenjara selama dua tahun dari 2006 hingga 2008 di penjara Bucca dan Abu Ghuraib yang keduanya milik Amerika Serikat. Selama pendudukannya di Irak, dia menetap di Tall Refa’at, yang merupakan tempat perlindungan bagi para pengungsi yang kembali dari negara-negara Teluk dan unsur-unsur paling radikal. Dia melakukan perjalanan ke Suriah pada akhir 2012. Beberapa dokumen mengkonfirmasi bahwa untuk menguasai dan mengontrol Suriah utara, ia membuat rencana kuat dengan menggunakan berbagai teknik, termasuk pengawasan, spionase, pembunuhan, dan penculikan. Dilaporkan bahwa Haji Bakr terbunuh dalam pertempuran bersenjata dengan pejuang Suriah pada Januari 2014, tetapi sebelumnya ia membantu mengambil alih wilayah besar Suriah, yang memperkuat status organisasi DAISY.

Haji Bakr terbunuh dalam baku tembak dengan oposisi bersenjata Suriah pada Januari 2014 setelah kota Tall Refa’at terbagi oleh pertempuran yang terjadi antara DAISY dan organisasi Islam atau organisasi sekuler lainnya setelah DAISY ingin memanggil salah satu pemimpin oposisi bersenjata, yang paling populer di antara faksi-faksi ini.[55][56]

Abu Bakr Al-Bagdadi

Ibrahim bin Awwad bin Ibrahim al-Badri Samarrai lahir di kota Samarra pada tahun 1971. Al-Baghdadi menisbatkan dirinya kepada suku Al Bubadri, [57] yang mencakup banyak klan termasuk al-Husainiyah al-Qurasyiah. Dan, karena Ahlusunnah percaya perlunya penisbatan nasab khalifah kaum muslimin kepada Quraisy, maka al-Baghdadi segera membuat pohon keturunan, yang nasabnya menyambung kepada Imam al-Hadi as dari jalur Ja’far al-Kadzdzab. [58][59]

Al-Baghdadi tumbuh dalam keluarga Salafi dan belajar hukum di Universitas Islam di Baghdad. [60] Ia menerima gelar sarjana, kemudian majister dan kemudian doktoral. Ia bekerja sebagai dai dan guru pelajaran-pelajaran agama di Samarra. [61] Jami Ahmad bin Hanbal di Samarra membentuk pusat kegiatan-kegiatan dakwah.[62] Pada tahun 2004, al-Baghdadi bergabung dengan kelompok-kelompok takfiri. Setelah pembentukan Dewan Syura Mujahidin, ia menjadi salah satu anggota Dewan Syar’i di Syura, dan karena pengaruhnya dan ketenarannya yang luas di antara klannya di Diyala dan Samarra, ia memainkan peran penting dalam mengambil baiat dari suku-suku Abu Umar al-Baghdadi.

Pasukan Amerika Serikat menangkap Abu Bakr al-Baghdadi pada akhir 2004 atas dugaan keterlibatan dalam kegiatan pemberontak, dan tetara Amerika memenjarakannya di Kamp Bucca di gurun Irak. Dia menghabiskan empat tahun di penjara Bucca setelah diinterogasi di penjara Abu Ghuraib.[63] Al-Baghdadi memiliki banyak nama, diantaranya: Syekh Ibrahim yang dikenal di kalangan jihadis, atau Abu Du’a, Dr. Ibrahim, Awwad Ibrahim, Syabah dan Syekh al-Makhfi (ia biasa mengenakan topeng yang menyamarkan wajahnya ketika ia berbicara dengan para pemimpinnya). [64] Deklarasi DAISY menegaskan supaya menyebut al-Baghdadi dengan nama Abu Bakr al-Husaini al-Quraisyi al-Baghdadi, dengan tujuan mendatangkan Hadits Nabi bahwa, ‘khalifah-khalifah umatku berjumlah dua belas, semuanya dari Quraisy’. [65]

Pembentukan Negara Islam di Irak dan Suriah

Abu Bakr al-Baghdadi berada di Suriah dan kembali awal tahun 2006 ke Irak di mana ia ditangkap oleh Amerika untuk waktu yang singkat. Sebelum dibebaskan dan setelah pembebasannya ia berjanji untuk mengatur negara Islam di Irak. Tidak lama setelah al-Baghdadi keluar dari penjara, Amerika mengeluarkan dua perwira senior dari penjara Bucca di Irak yang memainkan peran penting dalam masa depan Negara Islam Irak dan menetapkan al-Baghdadi sebagai pemimpin, yang tadinya ia (al-Baghdadi) adalah orang biasa yang tidak dikenal. Kedua perwira itu adalah Brigadir Jenderal Muhammad al-Nada al-Jabburi yang digelari al-Ra’i dan brigadir Samir Abdu Muhammad Haji Bakr anggota kepemimpinan Partai Ba’ath yang memainkan peran utama dalam keputusan negara Islam di Irak sampai masuknya ke Suriah pada akhir 2011. [66]

Abu Mush’ab al-Zarqawi membaiat organisasi al-Qaeda setelah ia merasa ditekan secara finansial dan keamanan oleh para pemimpin Jihad Irak. Oleh sebab itu ia memasukkan beberapa ratus pejuang al-Qaedah ke jajaran al-Tauhid wa al-Jihad. Pemimpin Jihad Irak segera membentuk negara Islam di Irak untuk merangkul al-Tauhid wa al-Jihad sebagai ganti dari melawannya. Setelah al-Zarqawi terbunuh dalam penerapan strategi AS (mengubah jalur api sebagai ganti dari konfrontasi), Amerika saat itu menciptakan beberapa kebangkitan (yang sebagian besar anggotanya milik suku Anbar, dan yang membentuk otak utama untuk garda Republik Irak dan basic manusia untuk pemerintahan rezim Saddam Hussain) untuk menyembunyikan negara Islam di Irak dan mengamankan tanah itu untuk mengamankan penarikan Amerika. [67]

Pada 19/04/2010 Abu Umar al-Baghdadi dan Abu Hamza al-Muhajir, menteri perang Negara Islam Irak, terbunuh dalam serangan udara AS. Kemudian diangkat seorang pemimpin baru negara itu bernama Abu Bakr al-Baghdadi. Pada 2011, Osama bin Laden terbunuh dan Abu Bakr al-Baghdadi mengeluarkan surat di mana ia mengumumkan dukungannya untuk Ayman al-Zawahiri.[68] Namun pada saat yang sama ia tidak berbaiat kepadanya dan menyatakan kemerdekaan formasi Negara Islam di Irak. [69] Abu Qatadah al-Falesthini secara tegas menyebutkan kesetiaan Abu Bakr al-Baghdadi kepada Ayman al-Zawahiri dan membantah klaim al-Baghdadi dan kelompoknya mengenai ketidakberbaiatannya, seraya menyebut klaim ini sebagai kebohongan murni. Ia menyebut al-Baghdadi telah bersalah menolak baiat kepada pemimpin al-Qaedah. [70]

Cakupan Khilafah

Batas Negara Islam di Irak dan Syam (NIIS) tidak terbatas pada dua negara ini, melainkan yang dimaksud dengan Syam adalah Suriah, Yordania, Lebanon, pendudukan Palestina, dan sebagian negara Barat, Irak dan gurun Sinai.[71] DAISY memilih nama ini dengan harapan mendirikan batas-batas kekuasaan di era Umayyah. [72] Faktanya, batas-batas kekhalifahan DAISY dan peta politik yang dilukis oleh organisasi ini meluas dari barat negara Cina ke Andalusia. Selain itu, struktur DAISY adalah struktur global, [73] yang diikuti oleh kelompok Salafi dari Indonesia hingga negara Maroko. [74]

Struktur Organisasi

Struktur organisasi ini terbentuk dari satu pemimpin dan Dewan Syura Militer. Anggota asli Dewan Syura Militer hanya terdiri dari warga Irak, karena Abu Bakr al-Baghdadi tidak mengizinkan orang non-Irak untuk menjadi anggota dewan ini. Jumlah anggota dewan ini terdiri dari 8 hingga 13 orang. Kepemimpinan dewan ini diadopsi oleh seorang mantan perwira tentara Irak yang dibubarkan atas nama Haji Bakr. [75]

Perwira dengan pangkat dua atau lebih rendah tidak berhak untuk bertemu al-Baghdadi dan Bakr, tetapi hanya menerima perintah-perintah sang pemimpin melalui anggota dewan saja. [76]

Faktor-Faktor Perkembangan

Dukungan Internasional dan Regional

Terdapat beberapa faktor yang mendukung perkembangan DAISY dan perluasan geografinya, diantaranya: dukungan internasional dan regional.[77] Kerapuhan interior Irak dan situasi gentingnya, sektarianisme di Irak, kelemahan tentara sebagai kekuatan pencegah, kurangnya kontrol pemerintah atas beberapa daerah di negara ini, [78] dan dukungan dari pasukan regional dan internasional untuk organisasi ini seperti dukungan keuangan yang diberikan oleh Arab Saudi dan ambisi Qatar untuk memimpin kompetisi negara-negara Arab di Saudi [79] dan dukungan Amerika untuk melemahkan negara-negara Islam dengan imbalan entitas Zionis. [80] Tetapi DAISY dan para takfiris pendukungnya tidak pernah bersekutu pada tingkat yang jauh dan strategis untuk kekuatan-kekuatan besar, tetapi kekuatan-kekuatan ini mendukung DAISY jika pekerjaannya sejalan dengan kepentingan dan keuntungan politik mereka. [81]

Aksi-Aksi Teror

DAISY melakukan penteroran para pemimpin sejarah dan orang-orang yang berpengaruh dari jihadis Salafi di Suriah dan Irak dengan tujuan memecah pengikut mereka dan merekrut mereka, baik semua atau sebagian dari mereka, untuk berbaiat kepada al-Baghdadi dan organisasinya. Aksi pembunuhan terpenting adalah aksi yang menelan Mohammad Bahaya (alias Abu Khalid al-Suri), pemimpin gerakan Ahrar al-Syam (pembebasan Syam), yang terbunuh pada 24 Februari 2014. Abu Khalid adalah orang ditugaskan oleh al-Zawahiri untuk menyelesaikan perselisihan antara al-Baghdadi dan al-Julani [82] dan untuk membocorkan informasi tentang tempat Abdul Qadir al-Saleh, pemimpin Panji Tauhid dari Ikhwanul Muslimin dan salah satu pendiri Front al-Nusrah. [83] Dia Tersangka membunuh lebih dari 40 pimpinan dari elemen gerakan Ahrar al-Syam selama operasi penanaman alat peledak di dalam gedung penelitian ilmiah di pedesaan utara Idlib, yang mana gedung itu merupakan markas salah satu pemimpin militer gerakan tersebut. [84]

Sumber Keuangan

Menurut boikot keuangan yang disetujui secara internasional atas DAISY sesuai pasal VII dewan keamanan, [85] kita dapat menghitung sumber daya keuangan DAISY sebagai berikut:

Dermawan Salafi Jihadis[86]seperti Abu Muhammad al-Adnani di Suriah dan penggalangan dana dari berbagai negara di dunia sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Muhammad al-Maqdisi di Yordania dengan mengumpulkan dana Zakat untuk kepemimpinan al-Qaedah. [87]

Melalui perebutan area minyak di Suriah utara dan Irak dan penjualannya di pasar gelap dengan harga yang murah, DAISY berhasil mendapatkan kekayaan besar. Dan sumber daya keuangan DAISY lainnya adalah penjualan produk minyak bumi dan petrokimia dan penjualan listrik dari pembangkit listrik di Suriah utara.

Pencurian dana bank, di mana ia berhasil menguras dari Bank Sentral Mosul saja sebesar 420 juta dolar. [88]

Mengenakan pungutan pajak di lahan pertanian besar, juga penyitaan dana tanah administrasi dan dana pemerintah. [89]

Dukungan dari negara-negara Teluk Persia, terutama Arab Saudi, Qatar dan UEA. [90]

Penculikan individu dan tuntutan tebusan untuk pembebasan mereka. [91]

Berdasarkan keyakinan DAISY bahwa monumen bersejarah adalah bentuk kesyirikan, ia menyerukan penghancuran beberapa peninggalan bersejarah dengan bahan peledak, tetapi geng mafia yang pandai dalam melarikan dan menyelundupkan monumen bersejarah telah mampu membangun hubungan dengan DAISY, membeli dan menjual monumen bersejarah tersebut di negara-negara Eropa dan Asia. [92] [93]

Bantuan yang diberikan oleh negara-negara Eropa, Amerika Serikat, negara-negara Arab (Arab Saudi dan Qatar) dan Turki ke DAISY untuk melawan pemerintah Suriah dan mematahkan garis perlawanan. Jumlah negara-negara itu mencapai empat puluh negara. Dan, bantuan-bantuan itu terputus setelah DAISY mengancam kepentingan negara-negara tersebut.[94]

Pelanggaran-Pelanggaran

DAISY telah melakukan banyak kejahatan terhadap Muslim Sunni dan Syiah, Kristen dan Yazidi di daerah yang didudukinya, mengendalikan mereka, melakukan pembunuhan mengerikan, dan menjatuhkan hukuman dengan memotong anggota tubuh dengan tuduhan palsu.

Di antara kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh DAISY dapat kita sebutkan: Pembakaran orang hidup-hidup,[95] perdagangan organ manusia, pembantaian sektarian, dan penggunaan senjata kimia[96] penyitaan harta dan pencuriaanya dari pemiliknya, penghangcuran tempat-tempat suci seperti tempat-tempat ibadah, pembongkaran kuburan dan penghancuran sejumlah peninggalan peradaban kuno dengan dalih bahwa itu adalah manifestasi dari politeisme (syirik). Dan, penculikan anak-anak dalam rangka merekrut mereka untuk tindakan teroris dengan mengajar mereka untuk membunuh, memata-matai, dan menyumbangkan darah untuk pejuang, menculik dan memperdagangkan perempuan untuk dijual[97] di pasar layanan seksual di Timur Tengah, mempraktikkan jihad pernikahan bahkan dengan mahram sendiri, [98] dan memperlakukan tentara-tentara mereka tanpa belas kasihan seperti layaknya orang yang berbuat salah dalam medan tempur dengan memotong anggota tubuhnya atau membunuhnya dengan dilempari peluru.[99]

DAISY menggunakan berbagai cara pembunuhan untuk menakut-nakuti dan menteror jiwa-jiwa manusia. Ia menggunakan cara paling keji dalam membunuh dan menjalankan eksekusi atas korbannya, misalnya melemparkan dari atas bangunan dengan tuduhan homoseksual[100], memotong kepala-kepala wanita dengan pedang dengan tuduhan sihir[101] dan membunuh sekitar 300 tentara Irak dengan tuduhan menggunakan senjata kimia. [102]

Pembunuhan Massal

Insiden pembunuhan massal paling penting yang dilakukan oleh DAISY adalah serangan di pangkalan udara yang dikenal dengan “pembantaian Camp Speicher”, yang merenggut nyawa lebih dari 1.700 tentara dari tentara Irak, semua mereka dari kota selatan Irak, dengan tuduhan menjadi anggota tentara dan Syiah, [103] dan juga pembantaian sekitar 500 orang dari suku Bunmer di Anbar, yang berdiri di hadapan DAISY.[104]

Penghancuran Kuburan dan Tempat-tempat Suci

Penghancuran tempat-tempat suci seperti tempat ibadah, pembongkaran kuburan dan pengeluaran mayat darinya, juga penghancuran sejumlah warisan peradaban kuno dengan alasan bahwa itu merupakan manifestasi dari politeisme. Tempat-tempat yang dihancurkan di: 1. Kota Mosul: Makam Nabi Danial as , makam Nabi Yahya bin al-Qasim[105] , makam Nabi Yunus as [106], masjid dan makam Nabi Syits [107], makam Aunuddin bin al-Hasan as[108], masjid dan makam dan monumen Nabi Jurjis as[109], makam Ibnu Atsir al-Jazri[110], makam Syekh Fathi [111] dan makam Syekh Abu al-Ala dan masjid dan kuil Qadhib Alban al-Mushili. 2. Kota Tal Afar: makam Khidr Iyas, makam Saad bin Aqil bin Abi Thalib, makam Ar Mahmud atau Armamut. [112] 3. Kota Al-Mahlabiah: Monumen Syekh Ibrahim, makam Syekh Ahmad Al-Rifai, [113] makam Sayidah Zainab sa di Kota Sinjar. [114] Dan, penghancuran, pembongkaran dan pemboman kuburan para sahabat dan orang-orang saleh, seperti Hujr bin Adi, Ammar bin Yasir, Awis al-Qarni dan Syekh Ahmad al-Rifai. [115]

Penyerangan Gereja-gereja dan Biara

DAISY menyerang gereja-gereja dan menculik sejumlah biarawati yang melayani gereja-gereja serta menghancurkan seluruh desa karena Suryani berbicara bahasa Yesus Kristus seperti desa Ma’loula. Tempat-tempat yang menjadi sasaran mortir adalah Biara Sednayah di desa Damaskus, Gereja Evangelikal Arab di Aleppo, Gereja Ortodoks Saint Kivork di Aleppo, gereja umm al-Zanar (Gereja Sayidah al-Salam) di Homs, Gereja al-Syuhada di kota Raqqa Suriah dan Gereja St. Elias Baqasir di Homs. [116]

Penghancuran Situs Arkeologi

DAISY telah menghancurkan lebih dari 300 situs arkeologi di Suriah[117] dan monumen-monumen arkeologi, yang paling menonjol adalah penghancuran patung Abu al-Ala al-Ma’arra di Aleppo, penghancuran patung Asad Sherian, patung Abu Tammam dan Osman al-Mosili di kota Mosul Irak dan patung Harun al-Rasyid di Raqqa. Warisan budaya dan museum sejarah di Suriah mengalami kerugian lebih dari satu miliar dolar dan mayoritas monumen ini tidak dapat dipulihkan dan direkonstruksi. [118]

Fatwa-Fatwa Ulama Tentang DAISY

Kriminalitas DAISY tidak hanya terbatas pada warga sipil dan militer, tetapi juga meluas mencakup ulama Sunni yang dibunuh organisasi radikal ini hanya karena mereka tidak berbaiat di daerah-daerah yang mereka duduki seperti Mosul di Irak utara. Sejumlah cendekiawan agama dieksekusi dengan diberondoli peluru di depan masjid kota (Isra) setelah mereka menolak untuk memberikan baiat. [119] Operasi-operasi DAISY mendorong ulama Syiah dan Sunni untuk mengeluarkan hukuman, sikap dan pernyataan terhadapnya:

Setelah DAISY memasuki kota Nainawa Pada 10/06/2014, Sayid Ali al-Sistani seorang marja’ taklid mengeluarkan pernyataan yang menyerukan pemerintah Irak dan para pemimpin politik di negara itu untuk menyatukan kata-kata mereka dan memperkuat upaya mereka untuk berdiri melawan para teroris dan memberikan keamanan kepada warga dari kejahatan mereka. [120] Kemudian ia mengumumkan jihad yang bersifat wajib kifai kepada seluruh masyarakat untuk melawan DAISY. [121]

Ulama Al-Azhar melalui juru bicaranya, Syekh Ahmad Karima Pada 10/06/2014 mengumumkan pelarangan semua praktik yang dilakukan oleh organisasi teroris ini dan tindakan kriminal mereka, dengan menekankan bahwa mereka telah menerima pelatihan di Amerika dan dalam administrasi Zionisme. [122]

Perkumpulan ulama Irak di Basrah melalui salah satu anggotanya, Syekh Mohammad Amin menekankan bahwa Irak terserang kelompok takfiri yang sesat dan bahwa setiap kejadian di Mosul (di tangan DAISY) yang dinisbatkan kepada Ahlusunnah, maka itu tuduhan belaka dan tidak ada yang memiliki hak untuk berbicara atas nama Ahlusunnah. [123]

Ketua hubungan ulama Syam, Syekh Usama al-Rifai menyifati para pemimpin DAISY bahwa mereka tidak takut kepada Allah Tabaraka wa Taala dan menghalalkan darah umat Islam dan bahwa penghalalan darah Muslimin mengantarkan mereka kepada kekafiran. Ia menekankan bahwa organisasi tersebut adalah organisi takfiri dan ekstremisme.[124]

Juru bicara resmi Kantor Perfatwaan Mesir mengatakan bahwa organisasi DAISY dengan pikiran ekstremisnya telah menyesatkan banyak anak muda yang ditipu dengan nama agama dan dengan nama negara Islam yang hendak dibangun olehnya, padahal sebenarnya itu adalah untuk mendistorsi agama, menghancurkan negara dan menumpahkan darah para hamba. [125]

Telah diadakan konferensi Grozny di Chechnya pada 25 Agustus 2016 yang menggambarkan Wahhabisme sebagai khawarij era masa kini. Ia menegaskan bahwa sepanjang sejarah telah menyaksikan gelombang pemikiran yang bergejolak dan menyimpang, yang mengklaim memiliki ikatan dengan wahyu yang suci dan menentang metode ilmiah yang benar dan berniat menghancurkannya serta mengusik keamanan dan stabilitas rakyat. [126]

Tantangan-Tantangan Ideologis

Kita melihat bahwa ada beberapa perbedaan signifikan pada tingkat ideologis dan pribadi antara pendiri DAISY dan Al-Qaeda dan simbol-simbol Salafi Jihadis, diantaranya:

Kekhalifahan DAISY tidak didasarkan pada dasar-dasar kekhalifahan Ahlusunnah. Olehnya, ia tidak mendapat penerimaan dari sebagian besar ulama Ahlusunnah, meskipun ada penerimaan dari sebagian kecil para pemuda yang merasa bangga dengan bergabung dengan organisasi ini, hal itu karena mereka telah putus asa terhadap penguasa negara-negara Arab dan Islam mereka. Seperti yang dikatakan Abu Qatada al-Falestini: Apa yang diumumkan Negara Islam DAISY tentang pembentukan negara kekhalifahan Islam adalah segi satu bentuk kebatilan. [127][128]

Pelantikan al-Baghdadi dirinya sendiri sebagai khalifah, tanpa merujuk kepada Ahlul Halli wal Aqdi, dimana Ahlul Halli wal Aqdi menurut Ahlusunnah merupakan salah satu elemen paling penting untuk pembentukan kekhalifahan Islam, dan atas dasar ini ia mengajak kelompok Takfiri DAISY untuk mengkritik Ahlul Halli wal Aqdi dan menjauhi kepercayaan tersebut bahkan menghina dan mencemarkan nama baiknya[129]. [130]

Salah satu persoalan yang mayoritas Ahlusunnah berbeda pendapat pada sosok al-Baghdadi untuk dinyatakan sebagai khalifah umat Islam dan sebagaimana disebutkan dalam buku-buku teologi Sunni, adalah keharusan nasab Quraisyi untuk khalifah, dan oleh sebab itu al-Baghdadi mengaku dirinya berkebangsan Quraisy. Namun, klaimnya disangkal oleh sejumlah orang yang menafikan nasabnya menyambung ke Quraisy. [131]

Selain itu, kepercayaan kaum Sunni untuk menerima kekhalifahan adalah baiat kepada khalifah yang merupakan salah satu pilar terpenting kekhalifahan. Dan ini ditentang secara tegas oleh para penentang kekhalifahan al-Baghdadi bahwa ia tidak memiliki dasar yang penting ini. [132]

Persatuan Ulama Muslim mengeluarkan pernyataan yang menafikan adanya ijma’ kaum Muslimin dan dukungan umat untuk kekhalifahan ini. [133] Sebagaimana Asosiasi Ulama Muslim di Irak mengeluarkan pernyataan yang memberikan beberapa bukti atas ketidakabsahan baiat ini dan ketidakresmian pemerintahan semacam itu. [134]

Dan juga salah satu prinsip yang terdapat dalam referensi kelompok Salafi Jihadis, hendaknya seorang khalifah tidak berbaiat kepada orang lain, sementara al-Baghdadi telah memberikat baiatnya kepada Mulla Umar, pemimpin al-Qaedah. [135]

Dalam sebuah surat kepada al-Zarqawi, Ayman al-Zawahiri menjustifikasi Osama bin Laden tentang kritikanya kepada al-Zarqawi karena membuat prioritasnya dalam memerangi musuh yang dekat (yaitu kaum Syiah) daripada musuh yang jauh (Amerika), sebab ia (al-Zarqawi) telah menghalangi para militan untuk memerangi Amerika. Disamping itu, mayoritas muslimin berhadapan dengan bahaya aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh al-Zarqawi, dan hilangnya simpati kaum muslimin dan keterlibatan mereka dalam pemerintahan, dan bahwa Amerika memerlukan tindakan politik langsung sesuai kebutuhannya kepada aksi militer. [136]

Abu Muhammad al-Maqdisi memberi nasihat kepada al-Zarqawi, mengatakan bahwa aksi-aksi bom bunuh diri di Irak telah menewaskan banyak warga Irak dan Syiah. Al-Maqdisi menunjukkan sikap yang sama dalam menghadapi kaum Syiah dan Muslim Sunni dan menjelaskan bahwa mereka tidak boleh dibunuh. [137]

Ketika DAISY menduduki provinsi Nainawa di Irak dan kemudian jatuh kota-kota dan desa-desa lain, Ayatullah Sayid Ali Sistasi segera mengeluarkan fatwa ‘jihad’ pada 13 Juni 2014 dan kemudian membentuk mobilisasi rakyat (al-Hasyd al-Sya’bi) yang mengakhiri perluasan dan pelebaran organisasi DAISY.

Konsekuensi-Konsekuensi

Setelah munculnya Organisasi Negara Islam (DAISY) dan pementasan kejahatan terhadap kemanusiaan yang melanggar hukum internasional, syariat dan norma-norma publik, muncul beberapa konsekuensi, diantaranya adalah: pendistorsian citra Islam, penyebaran fitnah diantara umat Islam yang satu, pengobaran api perang dan penciptaan keretakan di antara mereka, pelecehan kebangkitan Islam di wilayah tersebut dari jalur yang benar, pembangkitan reaksi pada negara-negara poros perlawanan, penjaminan keamanan terhadap rezim Zionis, dan pengukuhan dasar kemerdekaan dalam Ijtihad dan penyebaran sektarianisme.

Selain itu, mengingkari dasar-dasar empat mazhab Sunni dan Syiah, melemahkan front perlawanan di hadapan Zionis, merusak kekuatan Islam di dunia Islam dengan strategi perang sekte dan kebangsaan, menghidupkan api perang diantara kaum Muslimin dan tidak diikutcampurkannya kekuatan barat secara lansung di dalamnya, [138] membuat lupa umat Islam dari idealisme dan cita-citanya, melupakan kebenaran masalah Palestina, menutup jalan menuju pemulihan hubungan antara umat Islam , merampas keamanan dari dunia Islam dan menyebarkan kebencian terhadap Islam atau Islamofobia.

Deklarasi Penghapusan DAISY

Deklarasi tentang penghapusan Negara kekhalifahan Islam DAISY secara resmi dikonfirmasi oleh Mayor Jenderal Qasim Sulaimani pada pagi hari Selasa, 21 November 2017, dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada Ayatullah Khamenei, pemimpin Republik Islam Iran. Al Bukamal -daerah perbatasan antara Suriah dan Irak – adalah tempat perlindungan akhir dimana organisasi DAISY mendapat serangan dari kekuatan militer Suriah dengan bantuan pasukan rakyat dan konsultasi lapangan Mayor Jenderal Qasim Sulaimani. [139]

Catatan Kaki

  1. Da’wat al-Muqawamah al-Islamiyah al-Alamiyah, hlm. 694
  2. Lihat: Situs Daish ka Mauqi’ Syumukh al-Islam
  3. Najafi, jld. 5, hlm. 421
  4. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, jld. 13, hlm. 227, istilah Takfir, cet. Kuwait
  5. Alizadeh Musawi, jld. 1, hlm. 94
  6. Tarik al-Thabari, jld. 4, hlm. 54
  7. Ziarah al-Qubur wa al-Istinjad bi al-Qubur, hlm. 156; al-Hadiyah al-Sunniyah, hlm. 40
  8. Ja’fariyan, hlm. 441
  9. Ja’fariyan, hlm. 441
  10. [1]
  11. Kasyf al-Syubahat, hlm. 58; Majmu Muallafat al-Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, jld. 6; Risalah Kasyf al-Syubahat, hlm. 115
  12. Majmu Muallafat al-Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, jld. 6; Risalah Kasyf al-Syubahat, hlm. 124
  13. Al-Lu’lu’ al-Makin min Fatwa Fadhilah al-Syekh Ibnu Jabrin, hlm. 39

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2024 Syiahpedia. All Rights Reserved.