Syiahpedia
MENU

Kamal al-Din Maitsam bin Ali bin Maitsam al-Bahrani (bahasa Arab: کمال الدین میثم بن علی بن میثم بحرانی ) lahir pada tahun 636 H/1238 dan wafat pada tahun 679 H/1280 atau tahun 699 H/1299 adalah seorang ahli hadis, fakih, ahli kalam Syiah yang masyhur pada abad ke-7 Hijriah. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Ibnu Maitsam menyibukkan dirinya dengan aktivitas keilmuan dengan mendidik sejumlah murid, menulis dan menghasilkan banyak karya. Diantara muridnya yang terkenal yang menimba ilmu fikih darinya adalah Khajah Nashiruddin al-Thusi. Meski pakar dalam banyak bidang ilmu, namun Ibnu Maitsam lebih dikenal sebagai ahli kalam, dan karya yang dihasilkannya lebih banyak pada bidang ini. Dua karyanya yang terkenal pada bidang kalam adalah, Qawāid al-Marām fi ‘ilm al-Kalām dan Ikthiyār Mishbāh al-Sālikin.

Pendidikan
Sebagian dari laqabnya adalah Mufid al-Din [1]Sebagaimana telah disebutkan, ia lahir pada tahun 636 H/1238. [2]Ia menimba ilmu-ilmu dasar Keislaman di bawah bimbingan Abu al-Sa’adat As’ad bin Abdu al-Qahir bin As’ad al-Isfahani dan Kamal al-Din Ali bin Sulaiman al-Bahrani. [3] Meskipun dalam catatan sejarah tidak menyebutkan secara pasti nama kota-kota tempat ia menimba ilmu, namun bisa dikatakan kemungkinan besar ia menghabiskan aktivitas menuntut ilmunya di Irak, pusat keilmuan Syiah saat itu. Setelah menimba ilmu itu ia kembali ke Bahrain, sebagai tempat pilihannya untuk mengajar dan melanjutkan aktivitas keintelektualannya.

Karya dan Aktivitas Pengajaran
Setelah ia mendapatkan pengakuan atas keilmuannya oleh ulama-ulama Irak, maka iapun memulai aktivitasnya mengajar dan mendidik murid, serta menulis sejumlah karya ilmiah. Ibnu Maitsam disebutkan saat menetap di Irak kemungkinan besarnya bermukim di kota Hillah,[4]sebab diantara yang banyak meriwayatkan ilmu darinya adalah ulama-ulama yang berasal dari Hillah, seperti Sayid Abdul Karim bin Thawus al-Hilli [5]dan [[Allamah Hilli] [6] Disebutkan pula, Khajah Nashiruddin al-Thusi menimba ilmu fikih darinya sementara ia belajar kalam dari Khajah. [7]

Ibnu Maitsam dikalangan ulama lebih dikenal sebagai ahli kalam. Hal tersebut bisa dilihat ketika ia mensyarah Nahj al-Balaghah, didapati dalam syarahnya tersebut pemikiran-pemikirannya sangat diwarnai dengan teori-terori kalam dan filsafat. Meski demikian, Ibnu Maitsam dengan sejumlah bidang ilmu yang dikuasai, ia pun sering disebut sebagai filsuf, muhaqqiq/peneliti, ahli hadis, ahli fikih dan mutakallim/teolog yang berwawasan luas [8] Ia juga dikenal sebagai ahli fikih [9]sebagaimana Khajah Nashruddin dikenal sebagai ahli kalam. Disebutkan oleh Sulaiman Mahuzi al-Bahrani [10]ulama-ulama fikih, ahli hadis dan mutakallimin banyak menukil riwayat dari Ibnu Maitsam. [11]

Sebagian dari Teorinya dalam Ilmu Kalam
Dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ditemui dan berkembang dalam ilmu kalam Ibnu Maitsam banyak dipengaruhi oleh Khajah Nasharuddin sebagaimana yang ditulisnya dalam kitab Tajrid al-‘Itiqād.

Berbeda dengan Allamah Hilli yang lebih sering mengandalkan dalil naqli, Ibnu Maitsam lebih sering menggunakan dalil akal. Ibnu Maitsam berpendapat dalam mengenal Tuhan sepenuhnya harus melalui akal dengan menggunakan argumentasi logis dan bukan melalui taklid terhadap dalil-dalil naqli. Menurutnya pengenalan atas Tuhan dengan pendekatan doktrinal melalui dalil-dalil naqli bukanlah pengenalan yang sempurna. [12]Dalam masalah ini, menurut Ibnu Maitsam pendapat Mu’tazilah masih lebih baik dibanding pendapat kelompok Asya’ri. [13]

Dalam masalah nubuwah, Ibnu Maitsam menggunakan teori-teori filsafat untuk memberi penjelasan mengenai apa, bagaimana, untuk apa, mengapa dan siapa. [14]

Mengenai ma’ad (hari kebangkitan) Ibnu Maitsam sependapat dengan Abu al-Hasan al-Bashri, bahwa bagian tubuh manusia yang dibangkitkan adalah tetap bagian tubuh yang sebelumnya dan tidak digantikan dengan tubuh yang lain. [15]

Hasil Karya
Mishbāh al-Sālikin atau Syarh Nahj al-Balāghah dan sekitar 30 hasil karya lainnya.

Yang Telah Dicetak
Mishbāh al-Sālikin atau Syarh Nahj al-Balāghah dicetak pada tahun 1276 H/1859 melalui riset Akhund Mulla Muhammad Baqir di Tehran. Pada tahun 1404 H/1983 juga di Tehran dicetak oleh tim periset dengan judul Syarh Nahj al-Balāghah. Dalam mukaddimah pada kitab tersebut, Ibnu Maitsam menulis bahwa syarh tersebut ditulisnya atas dukungan ‘Atha al-Mulk al-Javini. [16]

kthtiyār Mishbāh al-Sālikin, ringkasan Syarh Nahj al-Balāghah.
Syarh al-Miāh li Nahj al-Balāghah[17]Menurut Kanturi judul aslinya adalah Minhāj al-‘Arifin [18]Naskah aslinya oleh Agha Buzurg dihadiahkan untuk perpustakaan Kasyif al-Ghithah. [19]Kitab ini dicetak pada tahun 1390 H/1970 melalui usaha Muhaddis Armawi di Qom.
Qawā’id al-Murām fi ‘Ilm al-Kalām dicetak melalui usaha Sayid Ahmad Husaini di Qom tahun 1398 H/1978. Judul lain kitab ini, al-Qawā’id al-Ilahiyah fi al-Kalām wa al-Hikmah. [20]
Tulisan Tangan dan Naskah yang Belum Terbit

Al-Syarh al-Shaghir li Nahj al-Balāghah. [21] Menurut Aqa Buzurg Tehrani kemungkinan kitab ini adalah juga Syarh al-Miāh Kalimah li Nahj al-Balāghah.[22]
Risālah fi Adāb al-Bahts.[23]
Al-Istighātshah fi Bada’ al-Tsalātsah,[24] namun menurut Aqa Buzurg Tehrani [25]naskah ini ditulis oleh Syarif Abu al-Qasim Ali bin Ahmad al-Kufi (w. 325 H/937).
Istiqshā al-Nadzhar fi Imāmah Aimmah al-Itsna ‘Asyara.[26]Namun, Abdullah Efendi Isfahani meragukan kesahihan jika kitab ini dinisbatkan kepada Ibnu Maitsam.[27]
Ushūl al-Balāghah, ditulis untuk Nadzham al-Din, putra ‘Atha al-Mulk al-Javini. [28]Kitab ini juga dikenal dengan judul Tajrid al-Balāghah.[29]
Risālah fi al-Imāmah.[30]
Jawaban atas risalah Nashiruddin. Naskah aslinya tersimpan rapi di perpustakaan al-Hakim di Najaf.[31]
Dan sejumlah naskah lainnya, yang masih tersimpan rapi. [32]
Wafat
Meskipun banyak sumber yang menyebutkan Ibnu Maitsam wafat pada tahun 679 H/1280 namun dengan adanya fakta bahwa kitab Syarh al-Shaghir li Nahj al-Balāghah selesai ditulis pada tahun 681 H/1282 [33]maka ini menunjukkan bahwa Ibnu Maitsam wafat setelah tahun tersebut. Kanturi berpendapat Ibnu Maitsam wafat pada tahun 699 H/1300. [34]. Makam Ibnu Maitsam ada dua versi, di al-Dawanaj atau Halta yang merupakan wilayah Bahrain. Mirza Husain Nuri [35]meyakini versi yang benar Ibnu Maitsam di makamkan di Halta sebagaimana kesaksian dan periwayatan yang kuat. Sementara pendapat lain menyebutkan makam aslinya ada di al-Dawanaj dengan nama ayahnya Maitsam bin Mu’alli bukan Kamaluddin Ibn Maitsam. [36]

Catatan Kaki
1. Syausytari, Majālis al-Mu’minin, jld. 2, hlm. 210; Tankabani, hlm. 420.
2. Mahuzi, Fehrest, Qishash al-‘Ulamā, hlm. 69.
3. Afandi, Riyādh al-‘Ulama, jld. 5, hlm. 227.
4. Mahuzi, al-Salāfah al-Bahiyah fi al-Tarjamah al-Maitsamiyah, jld. 1, hlm, 43 dan 44.
5. Afandi, Riyādh al-‘Ulama, jld. 5, hlm. 227.
6. Khawansari, Raudhāt al-Jannāt, jld. 7, hlm. 216.
7. Mahuzi, al-Salāfah al-Bahiyah fi al-Tarjamah al-Maitsamiyah, jld. 1, hlm. 47; Lih. Nuri, Mustadrak al-Wasāil, jld. 3, hlm. 426; Khawansari, Raudhāt al-Jannāt, jld. 6, hlm. 302.
8. Hur ‘Amuli, Amal al-Amal, jld. 1, hlm. 332; Mahuzi, al-Salāfah, jld. 1, hlm. 42.
9. Tharihi, Majma’ al-Bahrain, jld. 6, hlm. 172.
10. Mahuzi Bahrani, al-Salāfah al-Bahiyah fi al-Tarjamah al-Maitsamiyah, jld. 1, hlm. 47-53.
11. Mahuzi Bahrani, al-Salāfah al-Bahiyah fi al-Tarjamah al-Maitsamiyah, jld. 1, hlm. 47 dan 48.
12. Ibnu Maitsam, Qawā’id al-Marām fi ‘Ilmi al-Kalām, hlm. 28.
13. Ibnu Maitsam, Qawā’id al-Marām fi ‘Ilmi al-Kalām, hlm. 63, hlm. 82, hlm. 84.
14. Ibnu Maitsam, Qawā’id al-Marām fi ‘Ilmi al-Kalām, hlm. 121.
15. Ibnu Maitsam, Qawā’id al-Marām fi ‘Ilmi al-Kalām, hlm. 139-144; sebagian lain pendapatnya bisa dirujuk ke Syarh Nahj al-Balāghah Syarif Lahiji, Mahbūb al-Qulūb, jld. 2, hlm. 545-547.
16. Syarh Nahj al-Balāghah, jld. 1, hlm. 4.
17. Astar Abadi, Minhaj al-Maqāl, hlm. 511.
18. Kanturi, Kasyf al-Hajab wa al-Astār ‘an Asma al-Kutub wa al-Asfār, hlm. 349.
19. Agha Buzurg, al-Dzari’ah, 23/168.
20. Al-Dzari’ah, jld. 17, hlm. 179.
21. Astar Abadi, hlm. 511.
22. Agha Buzurgh Tehrani, jld. 20, hlm. 198.
23. Tharihi, Majma’ al-Bahrain, jld. 6, hlm. 172.
24. Syarif Lahiji, Mahbūb al-Qulūb, jld. 2, hlm. 545
25. Agha Buzurg, al-Dzari’ah, jld. 2, hlm. 28
26. Syarif Lahiji, Mahbūb al-Qulūb, jld. 2, hlm. 545.
27. Efendi, Riyadh al-‘Ulama, jld. 2, hlm. 545
28. Kanturi, Kasyf al-Hijab wa al-Asytār ‘an Asma al-Kutub wa al-Asfār, hlm. 49.
29. Agha Buzurgh, jld. 2, hlm. 28, jld. 3, hlm. 352.
30. Astar Abadi, Minhaj al-Maqāl, hlm. 511.
31. Najaf, Fehrest Makhthūthāt Maktabah Ayatullah Hakim al-‘Ammah, jld. 1, hlm. 164.
32. Brockelmann,vol.1/705
33. Agha Buzurgh, Thabaqāt A’lām al-Syiah Qurun 7, hlm. 188.
34. Kantuzi, Kasyf al-Hajab wa al-Astār ‘an Asmā al-Kutub wa al-Asfār, hlm. 291.
35. Jld. 3, hlm. 461.
36. Nāmeh Dānesywarān, jld. 3, hlm. 287.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2024 Syiahpedia. All Rights Reserved.